Senin, 11 Agustus 2014

Diary, sebuah rahasia, dan pembalasan dendam



Diary, sebuah rahasia, dan pembalasan dendam.

Pagi ini cukup cerah. Burung-burung berkicau indahnya.  Matahari pun bersinar dengan gagah tanpa terhalangi oleh setitik awanpun. Meski begitu, cuaca tidak terlalu panas. Dikarenakan di sekitar ditanam pohon-pohon untuk memperbanyak produksi oksigen. Selain pohon, dibawahnya juga terdapat berbagai macam bunga, yang membuat daerah sekitar sekolahku menjadi sangat cantik. Sungguh, aku suka dengan keadaan ini. Tenang, damai, dan tentram. Terlebih, siswa-siswi sekolahku belum ada yang datang. Wajar saja, sekolah masih menunjukan pukul 06.15, sementara pelajaran dimulai pukul 07.30.

“BEBYYY!!!!!!!!!!!!!!!”

Uhh, pasti dia. Ya, dia. Nabilah Giovani Hopkins. Cewek keturunan Amerika itu adalah sahabatku. Dia ini cukup cerewet. Selain cerewet, dia juga sangat jahil dan berisik. Entahlah. Aku juga bingung mengapa aku bisa bersahabat dengannya. Ah, sebelumnya aku lupa memperkenalkan diri. Aku Beby. Beby Nur Savira. Jika sahabatku itu adalah orang bule, bukan berarti aku juga keturunan bule. Aku orang Indonesia asli.

Aku pun mengalihkan pandanganku kea rah sahabatku yang tengah berlari menghampiriku yang sedang asik memandangi taman. Sesaat, aku mengerutkan keningku saat melihat wajahnya yang murung. Namun setelahnya, aku kembali menunjukan ekspresi biasa. Hanya ada 2 hal yang membuat wajahnya murung di pagi hari. Pertama, ia lupa mengerjakan PR yang membuat ia harus datang pagi. Kedua, ia lupa sarapan pagi. Ah, tapi sepertinya ia sedang mengalami hal yang pertama, karena memang jam masih menunjukan pukul setengah 7, ah bahkan kurang.

“ada apa? Lupa ngerjain PR?” aku bertanya diikuti tanganku yang meraih tas punggung ku yang ku letakan di sebelah bangku yang kududuki.
“hehe, iya! Ah, kamu memang sahabatku yang paling pengertian!” ucapnya sambil cengengesan.
“kita sudah bersahabat sejak kelas 1 SMP. Aku sudah hafal dengan semua kelakuanmu, nona Hopkins” ucapku dengan nada mengejek, membuat sahabatku yang satu ini mendelik.
“uh, sudah ku bilang jangan memanggilku seperti itu! Lagipula, Hopkins itu nama belakang ayahku. Nabilah Giovani, itulah namaku!”
“iya, iya! Udah ah, jadi minjem gk? Aku gk mau ya, kamu ngomel-ngomel sama Aku karena kamu dihukum!”
“nah, kalau yang satu itu harus!!! Mana bukumu?” ucapnya sambil duduk di sebelahku. 

Aku pun segera menyerahkan buku milikku, yang langsung di ambil olehnya. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkahnya. Sementara ia menulis, aku melanjutkan kegiatanku memperhatikan keadaan taman sekolahku. Hah, entah kenapa taman ini begitu indah untuk diperhatikan, walaupun sudah sangat sering aku memperhatikan taman ini. Bahkan saking seringnya, aku sampai hafal berapa jumlah bunga yang tumbuh dalam satu pot. Eh, untuk yang satu ini bukan aku yang menghitungnya. Tapi Nabilah.

‘biar sekalian. Sejak kita menginjakan kaki di sekolah ini, kamu hanya memperhatikan taman ini. Nah, sebagai sahabat yang baik aku menghitung jumlah bunga di tiap pot, agar kamu semakin memperhatikannya!’

Itulah yang ia ucapkan saat menyerahkan secarik kertas yang berisi jumlah bunga di tiap pot. Bahkan, di tiap pot tersebut terpasang nomor-nomor, yang ia pasang sesuai dengan yang ia tulis. Aneh, tapi itulah sahabatku, Nabilah Giovani. Aku pun kembali mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru taman, hingga akhirnya mataku berhenti di satu titik. Mataku terus menatap intens ke arah bawah pohon Cemara, dimana disana tergeletak sebuah buku bersampul biru laut, yang tampak lusuh. Tanpa sadar, aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pohon tersebut.

“Beby! kamu mau kemana?”

Pertanyaan Nabilah membuatku tersentak. Aku pun menoleh ke arahnya, “ah, Cuma mau keliling aja. Bosen juga Cuma nungguin kamu nulis” ucapku memberi alasan.

“oh, yaudah. Jangan jauh-jauh Beb, ntar kalo kejauhan nanti kamu ilang lagi! Hihihi” candanya. Aku hanya memutar kedua bola mataku, lalu berjalan menuju buku tersebut.

‘DIARY!!’ batinku saat aku sudah memegang buku tersebut. Sebenarnya siapa pemilik buku ini? Dan, kenapa juga buku ini di tinggalkan begitu saja disini? Ini kan Diary, buku pribadi. Apa pemilik buku ini tidak takut kalau rahasianya terbongkar? Jika perkiraanku benar, buku ini sudah cukup lama berada disini, karena sampul buku tersebut yang mulai usang. Ragu-ragu, aku membuka buku Diary tersebut. ‘Melody Ivanovic. 28 Mei 1987.’ Itulah tulisan yang ada di halaman depan. 1987? Berarti pemilik buku ini sudah tidak bersekolah lagi disini. Aku pun menutup buku tersebut, lalu kembali menghampiri Nabilah yang sepertinya sudah selesai menulis.

“udah?”
“sudah. Terimakasih, Beby!” ucapnya sambil menyerahkan bukuku. Aku pun segera memasukan buku tersebut ke dalam tasku, lalu meletakannya di punggungku.
“ya udah, yuk kita ke kelas!” ajakku. Dia hanya mengangguk. Kami berdua pun berjalan menuju kelas kami, XI-IPS 2. Sesampainya dikelas, kami langsung duduk di bangku kami yang terletak di pojok kelas.
“eh, Nab. Tadi aku nemu diary!” ucapku setelah mengetahui bahwa guru mata pelajaran yang seharusnya mengajar tidak dapat hadir.
“diary? Milik siapa?”
“kalau tidak salah, namanya Melody Ivanovic”
“lalu, kenapa kau tidak melapor pada guru? Dengan begitu, diary itu akan kembali ke orang bernama Melody itu” ucap Nabilah.
“tidak, tidak! Dalam buku itu tertulis tanggal lahirnya. Kau tau tanggal, bulan, dan tahun berapa dia lahir? 28 maret 1987!!!”
Nabilah yang sedari tadi memainkan HPnya pun menoleh ke arahku dengan tatapan kaget, “kau serius?”
“kau berfikir aku bohong? Ah sudahlah. Aku tidak mau membahas hal ini di sekolah. Karena menurut kabar yang aku dengar, disekolah ini seringkali ada hantu-hantu yang berkeliaran! Hiii!!!”

Kami berdua pun melanjutkan obrolan, tanpa membahas hal-hal mengenai buku diary, ataupun cewek bernama Melody Ivanovic itu. Namun walaupun begitu, entah kenapa sejak tadi aku mengungkit soal diary, suasana sedikit mencekam. Ah, entahlah. Mungkin hanya perasaan ku saja. Ya, mungkin.

“tolong aku….”

DEGG!!!!

Aku tersentak kaget saat sebuah suara perempuan terdengar. Suara yang begitu lirih, membuatku merinding. Kulirik Nabilah yang duduk disebelahku. Raut wajahnya menampakan ekspresi tenang. Apa mungkin hanya aku yang mendengarnya?

“Nab, tadi kamu denger suara gitu gak?” tanyaku.
“apaan? Orang daritadi gk ada suara!” balasnya sambil terus focus ke gadgetnya.

Jawaban Nabilah semakin membuat bulu kudukku meremang. Tanpa sadar, aku mengusap tengkuk belakangku. Mata ku juga sedari tadi selalu mengawasi sekeliling. Hingga akhirnya, mataku berhenti saat menatap pojok kelas, tepatnya di belakang kursi guru. Ah, tidak. Aku tidak menatap kursi guru, melainkan sosok yang berada di belakangnya. Sosok perempuan, berbaju seragam yang mirip sepertiku, namun desainya lebih simple. Jika seragamku memiliki corak di bagian lengan juga samping kemeja, maka yang sosok itu kenakan hanya kemeja putih polos. Untuk rok, motifnya sama dengan yang aku kenakan.

Aku terus menatap sosok tersebut. Kepalanya yang menunduk membuat rambut panjangnya menutupi wajahnya.  Kulitnya putih, pucat. Seperti tidak ada aliran darah di tubuhnya. Ah, di bagian tangannya pun Nampak beberapa luka memar. Aku terus memperhatikan sosok itu, hingga saat sosok itu memperlihatkan wajahnya, aku tersentak kaget. Wajahnya pucat, mulutnya terkatup rapat, sementara matanya menatap tajam ke arahku. Mulutnya yang sedari terkatup, perlahan berubah menjadi seringaian mengerikan. Tanpa sadar, aku memundurkan tubuhku hingga menempel ke dinding. Oh, sial! Apa sekarang aku memiliki kemampuan melihat hal gaib?

“OYYY BEBY!!!!!!!!!!”

Teriakan Nabilah yang tepat di kupingku, membawa ku kembali ke alam nyata. Aku pun menoleh kea rah Nabilah yang tengah menatapku khawatir. Ada apa dengannya?

“kau kenapa? Daritadi ku panggil, namun tak menyahut! Kau, sakit?”
“ah, tidak! Tidak ada apa-apa”
“tapi kenapa kau berkeringat dingin seperti ini?”

Refleks, aku mengusap kening dan juga sekitar leherku. Benar! Ternyata sedari tadi aku memperhatikan sosok itu, keringat dingin mengucur keluar dari tubuhku. Ah, mengingat sosok itu, ku lirik kembali tempat dimana sosok itu berada. Diam-diam, aku bernafas lega saat melihat sosok tersebut sudah tak ada.

“hey Beby, kau kenapa?”
Aku kembali menatap kea rah Nabilah, “tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing”
“kau sakit? Kalau kau sakit, lebih baik kita pergi ke UKS!”
“ah tidak perlu. Aku hanya butuh tidur. Bangunkan aku kalau guru masuk ya?”

Aku pun meletakan kepala ku diatas meja dengan kedua tangan yang kulipat sebagai bantalnya. Aku pun mulai memejamkan mataku, walaupun sedikit susah. Tapi akhirnya, kedua mataku mau berkompromi dengan kepalaku yang sudah sangat pusing. Sepertinya aku tertidur cukup lama, karena yang kuingat saat Nabilah membangunkanku, jam sudah menunjukan pukul satu yang berarti sedang berlangsung istirahat kedua.

“eh, udah jam satu?” ucapku kaget.
“iya. Kamu daritadi dibangunin gk bangun-bangun. Yaudah aku diemin aja! Untung guru-guru pada ngertiin, karena badan kamu memang agak panas. Kalo kamu sakit, mending ke UKS aja! Biar dikasih obat! Lagian kan kalo istirahat di UKS enak, bisa rebahan di kasur!”

Huh. Cerewetnya Nabilah kumat. Kadang aku kesal jika cerewetnya Nabilah sedang ‘on’, tapi aku tau cerewetnya Nabilah itu untuk kebaikan ku juga. Jadi ya sudahlah. Ku terima saja cerewetan Nabilah kali ini.

“udah cerewetnya? Kalo udah sekarang kamu temenin aku ke kantin! Aku laper nih!” ucapku sambil menarik tangannya.
“Beb, pelan-pelan dong!” protesnya. Tapi aku tak memperdulikannya, karena yang ada di fikiranku sekarang adalah secepatnya sampai dikantin dan mengisi perutku dengan makanan. Sesampainya di kantin, aku langsung memesan makanan.
“oy, Beb! Lepasin dulu bisa kali!” ucapan Nabilah membuatku menoleh, lalu dengan segera melepaskan tanganku dari tangannya.
“hehe, sorry!”
“sorry, sorry. you know? My hand is very hurt! Oh god, my friend is as strong as the Hulk?”

Yah keluar deh sifat bule Nabilah. Aku tak menjawab setiap ucapannya dan memilih mengantri untuk mendapat makanan. Dibelakangku, Nabilah terus saja menggerutu. Uhhh! Sambil menggerutu, aku mengedarkan pandanganku. Sepi! Hanya terlihat 6-10 orang yang ada di kantin. Aneh. Tak biasanya kantin sekolahku ini sepi, apalagi jam istirahat seperti ini.

“neng, mau pesen apa?”

Ucapan sang penjual kantin membuyarkan lamunanku. Ah, akhirnya sekarang giliranku memean. Aku pun mulai menyebutkan pesananku yang langsung dibuatkan oleh sang penjual. setelah siap, aku membawa mangkuk makananku ke meja yang ada di pojok. Namun, baru saja aku ingin menyuapkn 
makanan ke mulutku, suara gaduh dari luar kantin menghentikan kegiatanku.

“ada apa?” ucap Nabilah.
“mana ku tau! Kalau kau ingin tau, lebih baik ikut dengan me---“ belum selesai aku menyelesaikan ucapanku, Nabilah sudah nyelonong pergi. Aku pun tak ambil pusing dan melanjutkan makanku yang tertunda. Kini tinggal aku seorang diri di kantin. Ya, sendiri. Karena siswa-siswi lain sudah mengikuti jejak Nabilah untuk mengetahui sumber kegaduhan. Selesai makan, aku langsung membayar dan segera pergi ke kelas, karena tadi Nabilah mengirim pesan singkat yang menyuruhku untuk pergi ke kelas lebih dulu. Sesampainya dikelas, aku melihat seorang siswi yang duduk di bangku ku. Aku pun mengerutkan kening, dan berjalan menghampiri siswa tersebut.

“maaf, ini tempat dudukku. Kamu siapa ya?” ucapku ramah. Siswi itu hanya menatapku dengan pandangan kosong, lalu segera pergi keluar kelas. Aku terus menatap punggungnya yang semakin menghilang di balik pintu. Ah, sudahlah. Mungkin tadi hanyasiswi kelas lain yang menunggu temannya yang berada di kelas ini. Aku pun duduk ditempatku. Tak berapa lama, siswa-siswi kelasku berhamburan masuk.

“oyy, BebyyyY!!!!!!!” seru Nabilah sambil berjalan cepat menghampiriku.
“apa?”
“Ay..Ayana! Ayana! Dibelakang!” Nabilah bicara terbata-bata, membuatku kembali mengerutkan kening.
“apa sih? Mending sekarang kamu atur nafas dulu deh!” Nabilah menuruti perintahku. Ia segera mengatur nafasnya yang sedari tadi tak beraturan.
“Ayana ditemukan meninggal di toilet belakang!!!” ucap Nabilah saat nafasnya mulai normal.
“Ayana? Ayana Nur Azizah? Yang keturunan arab itu? Kelas sebelah? Yang satu ekskul sama aku itu?” tanyaku beruntun.
“iya, iya itu!!! Ayana yang itu!”
“dia meninggal kenapa?” tanyaku.
“gk tau! Soalnya gk ada luka apa-apa di tubuhnya. Tadi pak kepsek juga udah nelpon polisi!”

Aku tak menjawab. Aku hanya diam dalam lamunanku. Ayana Nur Azizah. Setahuku, Ayana adalah siswi yang ceria dan baik kepada sekitar. Ia juga salah satu siswi berprestasi. Kenapa bisa sampai ia seperti itu? Dibunuh? Tapi kalau dibunuh, Nabilah bilang tidak ada luka apapun di tubuhnya. Bunuh diri? Untuk pilihan kedua bisa saja terjadi jika mengingat alasan pertama. Tapi jika bunuh diri, Ayana tidak mungkin melakukan itu. Seingatku, dulu Ayana pernah bilang kepadaku dan juga teman ekskul yang lain, kalau dia berkeinginan menjadi seorang pengusaha dan membahagiakan orang tuanya. Lalu, apa penyebab meninggalnya Ayana? Ah sudahlah. Memikirkannya saja membuat kepalaku sakit.

Karena kejadian ini, sekolah dipulangkan lebih cepat. Ya walaupun tidak cepat-cepat juga, mengingat jam sudah menunjukan pukul setengah 2 siang, sementara sekolah bubar pukul tiga. Tapi, tak apalah. Aku dan Nabilah segera membereskan barang bawaan kami dan pergi ke parkiran. Nabilah berjalan menuju mobilnya, sementara aku berjalan menuju motor matic ku. Sebenarnya bisa saja aku sekolah membawa mobil seperti Nabilah, tapi untuk jalanan ibukota, sepertinya motor lebih efisien. 

Setelahitu, aku menghidupkan mesin motorku dan mengendarainya dengan kecepatan sedang.
Tak perlu waktu lama, aku sudah sampai di rumahku. Setelah memarkirkan motor, aku pun berjalan masuk.

“assalamualaikum!” ucapku sambil membuka pintu.
“wa’alaikumsalam. Eh dek, udah pulang?” ucap kakakku yang tengah menonton tv di ruang tengah.
“iiya nih kak. Di sekolah ada trgaedi gitu. Kak Kinal sendiri, gk kuliah?” Tanyaku pada kakakku. Kinalia Oktavia.
“ah kuliah lagi libur, soalnya para dosennya lagi ada pelatihan di Bali!” balasnya.
“wih asik banget! Ntar dosen-dosennya di Bali bukannya pelatihan, malah liat-liat bule lagi!” candaku sambil duduk di sebelah kakakku.
“yeee bisa aja kamu! Hahaha!”

Kami berdua pun mulai ngobrol ngalor ngidul. Entah apa yang kami bicarakan, karena temanya selalu berganti-ganti. Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Aku pun segera pergi ke kamarku untuk mandi dan berganti baju. Saking asiknya mengobrol bersama kakakku, aku sampai lupa untu mengganti baju seragamku. Ckckck. Selesai mandi, aku langsung mengambil air wudhu karena bertepatan dengn selesainy aku mandi, adzan maghrib berkumandang. Selepas menjalankan kewajibanku sebagai umat muslim, aku langsung duduk di meja belajarku dan mengambil diary tadi.
Aku terus memperhatikan diary tersebut, sampai tiba-tiba diary tersebut terbuka dengan sendirinya, dan berhenti tepat ditengah buku. Di buku tersebut, terselip sebuah foto yang berisikan seorang gadis cantik. Di foto tersebut, gadis itu mengenakan baju lengan panjang berwarna abu-abu dan hotpants berwarna putih. Rambutnya terurai panjang, seperti membingkai wajah nya yang sangat cantik.

“ini siapa?” gumamku. Aku pun melihat bagian belakang foto tersebut.
“Melody Ivanovic. Kelas X-3 SMA Altamevia ‘03” itulah yang kubaca di bagian belakang foto tersebut. 2003? Itu berarti 11 tahun yang lalu. Kalau memang siswi bernama Melody itu bersekolah pada tahun 2003, berarti dia sudah lulus 8 tahun yang lalu. Lantas, kenapa buku ini bisa ada disana, tanpa ada yang menemukannya dalam kurun waktu 8 tahun terakhir. Ah sungguh. Semua ini membuat kepalaku pusing. Aku pun kembalii melihat isi buku tersebut. Namun, baru saja aku ingin membuka halaman selanjutnya, buku tersebut terbuka kembali ke halaman awal.

“pembalasan sudah dilakukan. Pembalasan atas apa yang terjadi 10 tahun yang lalu. 10 Siswi-siswi disana akan mati satu per satu, jika ‘dia’ tidak mengakhiri semuanya!”

Oh, hell! Apa maksud dari semua ini? Pembalasan? Pembalasan apa ang dimaksud? Lalu, siapa ‘dia’ yang dimaksud? Oh sungguh. Semua ini membuatku menjadi semakin pusing. Aku pun membaca apa yang ada di halaman selanjutnya.

“korban pertama adalah seorang siswi kelas XI. Berinisial ANZ. Tewas karena tercekik”
“korban selanjutnya adalah seorang siswa kelas X. berinisial AS. Tewas karena kecelakaan.”
“korban ketiga adalah siswi kelas XII. Berinisial YL. Tewas karena kecelakaan”
“korban keempat adalah siswa kelas XII. Berinisial MK. Tewas karena keracunan”
“korban kelima adalah siswa kelas XI. Berinisial RH. Tewas karena kecelakaan”
“korban keenam adalah siswi kelas X. berinisial VF. Tewas karena kecelakaan”
“korban ketujuhadalah siswa kelas XII. Berinisial NH. Tewas karena kecelakaan”
“korban ke delapan adalah siswa kelas XI. Berinisial AL. tewas karena gantung diri”

Aku terus membaca nama-nama yang ada di buku tersebut. ANZ. Itu bukankah inisial nama Ayana? Ah mungkin hanya kebetulan. Namun, kenapa hanya tertulis delapan korban? Ah sudahlah. Aku pun tak memperdulikannya lagi. Aku pun menutup buku tersebut dan pergi ke kasurku. Tidur.
Esoknya, aku bersekolah seperti biasa. Ramai! Itulah yang aku fikirkan saat pertama kali menginjakan kakiku di sekolah. Ku lirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri ku. 06.25. masih cukup pagi, namun kenapa siswa-siswi disini sudah banyak yang berdatangan. Ah, sudahlah. Mungkin mereka ada urusan yang harus di selesaikan. Aku pun melanjutkan perjalananku menuju kelas. Di kelas, ternyata keadaan sudah ramai. Hal ini membuatku semakin bingung.

“loh, tumben udah pada dateng! Biasanya juga baru pada mandi!” ucapku dengan nada meledek.
“kita dateng pagi juga disuruh tau! Katanya mau ada pengajian buat Ayana. Emangnya lo gk di smsin?” ucap salah seorang temanku.
“eh, sms?” aku pun segera mengeluarkan HP ku, yang ternyata sedari kemarin aku matikan. Pantas saja. Saat aku menghidupkan HP ku, banyak sms masuk yang datang dari teman-teman sekolahku yang menyuruh seluruh siswa-siswi datang pagi.
“oh iya! Hehe. HP nya dari kemarin aku matikan, jadi ya gitu deh!” ucapku lalu berjalan menuju tempat dudukku, menghampiri Nabilah yang ternyata sudah datang.
“pagi nona Hopkins!” sapaku, membuatnya mendelik. Sementara aku hanya cengengesan.
“kamu semalem kemana aja? Aku sms gk dibales, di telpon gk aktif!” ucapnya.
“maaf, maaf. Kemarin aku lupa kalo HP nya aku matiin. Baru dihidupin tadi pagi”
“huh, padahal aku mau cerita!”
“cerita apasih? Sini sini cerita!”

Ia pun mulai menceritakan kisahnya kepadaku. Aku dengan seksama mendengarkan, hingga akhirnya sebuah suara dari speaker yang menyuruh kami untuk kelapangan menghentikan kisahnya. Kami pun segera pergi kelapangan, untuk melaksanakan pengajian. Oh ya, aku lupa member tau. Walaupun Nabilah keturunan Amerika, ia tetap beragama islam, dikarenakan kedua orang tuanya memutuskan untuk masuk islam sebelum menikah. Setelah mengambil posisi duduk yang pas tanpa terkena sinar mentari, kami pun mulai membaca surat yasin dengan khusuk.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Jeritan seseorang memecah kekhusukan kami yang sedang membaca yasin. Para guru juga siswa-siswi (termasuk aku dan Nabilah) segera berlarian menuju sumber suara, yang berasal dari koridor. sesampainya disana, kami menemukan seorang siswi yang menangis di samping jasat seorang siswa.

“ada apa ini?” Tanya seorang guru. Siswi itu pun menceritakan kejadian nya secara rinci. Saat itu siswi yang diketahui bernama Bella, kelas XI, sedang berjalan bersama siswa tersebut yang ternyata adiknya. Namun, saat sedang berjalan, tiba-tiba saja siswa tersebut terjatuh dari tangga, yang menyebabkannya tewas.

“kalau boleh tau, siapa nama siswa tersebut?” tanyaku.
“Rio. Agrario Stevent”

DEGG

Agrario Stevent, AS. Tewas karena kecelakaan. Kebetulan kah, atau.. entahlah. Aku pun mengedarkan pandanganku di sekitar tangga. Mataku membelalak saat melihat sosok yang waktu itu kulihat dikelas. Diakah yang membunuhnya? Atau kebetulan sosok itu berada disana? Tidak, ini bukan kebetulan. Ini sudah di rencanakan! Tapi, siapa pelakunya? Melody? Ah, tidak mungkin. Ia sudah lulus beberapa tahun yang lalu. Eh, tapi jika mengingat isi diarynya, bisa saja. Tapi, bagaimana caranya ia merencanakan semuanya dengan begitu apik, bahkan hingga menulis nama korban-korbannya?

“ini baru permulaan”

Sebuah suara tiba-tiba muncul di kepalaku. Suara itu! Suara yang kemarin minta tolong kepadaku! Darimana ia berasal? Dan siapa yang berbicara? Sudahlah. Kembali, sekolah dibubarkan lebih cepat. kejadian ini terus terulang hingga 3 hari kedepan. Korban-korbannya pun sesuai dengan yang ada di buku. Korban ketiga adalah siswi kelas XII bernama Yuvia Louise, atau YL. Tewas karena kecelakaan praktik kimia di lab. Korban ke-empat adalah siswa kelas XII bernama Maulana Kautsar atau MK. Tewas karena keracunan makanan kantin. Korban kelima adalah siswa kelas XI bernama Ridho Hakim atau RH. Tewas karena tertimpa kursi-kursi bekas saat bertugas membersihkan gudang.

Melihat hal ini, sungguh membuatku bingung. Sungguh. Terlebih 3 hari setelahnya kejadian yang 
sama terjadi lagi. Nama korban sesuai dengan inisial yang ada di buku. yang lebih membuatku bingung, disetiap terjadi hal seperti ini, sosok tersebut selalu muncul dengan seringaiannya yang mengerikan. karena penasaran, aku pun melihat buku tersebut. Tidak ada nama siapa korban selanjutnya.

“kau ingin mengakhiri semua ini, kan?”

Tiba-tiba sebuah suara melintas di kepalaku. Suara itu lagi! Iseng aku menjawab pertanyaannya.

“ya!”
“baiklah. Aku akan menunjukannya kepadamu”

Tiba-tiba saja buku tersebut terbuka hingga kehalaman tengah, lalu dari halaman tersebut muncul sebuah cahaya yang seakan menarikku ke dalam buku tersebut. Aku pun mengerjapkan mataku untuk menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Eh, ini kan.. koridor sekolahku!

“pak, bapak tidak bisa seperti ini dong! Kenapa harus saya? Nilai saya kan cukup baik!” protes seorang cewek berambut panjang yang ku kenal. Dia.. Melody Ivanovic!
“loh, itu hak saya dong? Saya guru kamu! Saya yang menentukan nilai rapot mu!” ucap seorang pria paruh baya yang sangat ku kenali. Pak Heru, atau kepala sekolah ku.
“ini gak adil pak! Oh saya tau! Bapak seperti ini Karena saya mergoki bapak jalan sama cewek lain kan? Iya kan? Bapak takut kalau rahasia bapak ini terdengar oleh istri bapak?” sentak Melody.
Pak Heru terdiam, “jaga ucapan kamu! Ini tidak ada hubungannya dengan kejadian itu!”
“lalu kenapa bapak tiba-tiba menurunkan nilai saya? Selama ini saya selalu mendapat nilai yang bagus!” Melody kembali protes.
“SUDAH DIAM!!!” bentak pak Heru sambil memukul wajah Melody, membuat Melody tersungkur dan pingsan.

Dari tempatku, aku dapat melihat dengan jelas apa yang kepala sekolahku itu lakukan. Perlahan, pak Heru menyeret tubuh Melody yang pingsan kea rah gudang, yang kuketahui sekarang berubah menjadi kantin. Sesampainya di gudang, pak Heru menjebol salah satu tembok, setelah itu tubuh Melody yang masih bernafas itu dimasukan kedalam. Kemudian pak Heru mengambil semen beserta batu bata. Untuk menutup lubang tersebut. Aku menutup mulutku tak percaya melihat apa yang sudah pak Heru lakukan. Aku harus menghentikan semua ini!!!!

Tiba-tiba saja, sebuah cahaya muncul dan menarikku.

BRUKKKK

Aku terjatuh begitu saja dari kursi. Semua terasa cepat dan nyata. Kulirik jam dinding yang menggantung, masih pukul delapan malam! Segera kuhubungi Nabilah, untuk segera datang ke sekolah. Aku sendiri segera pergi ke sekolah menggunakan motorku. Sesampainya di sekolah, kulihat Nabilah sudah sampai. Tapi tunggu! Ada satu mobil lagi yang kulihat di samping sekolah. Mataku memicing untuk mengenali mobil tersebut, itu…. Mobil pak Heru!

“oy Beby! ada apa sih nyuruh aku kesini malem-malem begini!? Serem tau!!!!” keluh Nabilah. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku menarik tangannya untuk segera berlari memasuki halaman sekolah.
“PAK HERU!!!!” teriakku saat melihat sosok kepala sekolahku.
“ah, Beby, Nabilah, ada apa?” Tanya pak Heru.
“bapak harus tanggung jawab! Karena bapak siswa-siswi disini terbunuh!” sentakku, membuat wajah pak Heru kaget.
“Beb, kamu apaan sih? Dia kepala sekolah!” bisik Nabilah, namun aku tak memperdulikannya.
“maksud kamu?”
“saya tau yang bapak lakukan terhadap siswi bernama Melody Ivanovic 10 tahun yang lalu!!! Dan sekarang, dia membalaskan dendam kepada bapak melalui siswa-siswi disini! Sekarang bapak harus tanggung jawab!”

Pak Heru terdiam mendengar ucapanku. Namun, tak berapa lama, seringaian muncul di wajahnya.

“ya, sebenarnya bapak tidak tau darimana kamu mengetahui hal ini. Tapi karena kalian mengetahuinya, lebih baik kalian menyusul Melody!” ucap pak Heru sambil mengeluarkan sebuah pisau dari bagian belakang celananya, dan menusukannya kepada Nabilah. Beruntung, Nabilah cepat menghindar. Kami pun segera berlari menghindari pak Heru.

“oh shit! Melody, keluarlah! Aku sudah membawakan pak Heru untukmu! Kau bisa membalaskan dendammu kepadanya!” teriakku sambil berlari. Nafasku dan Nabilah sudah sangat berantakan. Kami terus berlari, hingga tanpa sadar langkah kami menuntun kami ke kantin.
“sial! Kita kejebak!” umpat Nabilah. Dibelakang kami, pak Heru tersenyum penuh kemenangan.
“kalian tidak akan bisa kemana-mana lagi! Kalian akan mati!” ucap pak Heru.

WUSHHHHHH

Tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencang.

“KAU YANG AKAN MATI!!!!”

Aku pun menatap sosok yang tiba-tiba muncul di hadapan pak Heru. Itu.. Melody! Kejadian selanjutnya begitu cepat. aku dan Nabilah tidak dapat melihatnya, namun setelahnya kami menemukan pak Heru tergeletak. Matanya melotot, mulutnya menganga, sementara bagian dada juga perutnya berlubang. Aku segera menelpon polisi. Setengah jam kemudian, polisi datang. Aku pun memberi tahu perihal tubuh Melody yang ternyata dikabarkan hilang sepuluh tahun terakhir. Uuhhh, ini sangat menjijikan. Aku dan Nabilah sampai harus menutup hidung kami. Setelah ditanyai ini itu, kami berdua pun diperbolehkan pulang.

Esoknya, sekolah masuk seperti biasa. Namun, KBM diberhentikan. Aku dan Nabilah menjadi artis dadakan setelah kejadian semalam. Aku dan Nabilah hanya bisa tersenyum setiap kali ada yang menanyai perihal kejadian semalam. Karena jengah, aku dan Nabilah memutuskan untuk pergi ke taman. Sepertinya tempat ini cocok untuk menghindari teman-temanku.

“ehem, Beby! kamu..darimana kamu tau tentang pak Heru, tentang Melody?” Tanya Nabilah.
“Melody yang menunjukannya”
“oh ya? Bagaimana caranya?”
“entahlah, aku juga gk tau. Udah deh, gk usah bahas itu lagi. Kita kesini kan supaya gk ditanyain tentang hal itu!”

Akhirnya kami berdua mengobrol tentang hal-hal gk penting. Kami terus mengobrol tanpa memperdulikan waktu. Selain karena disini tenang, udaranya juga sejuk. Saat kami sedang asik mengobrol, tiba-tiba sebuah bayangan wanita cantik muncul di hadapan kami.

“Melody? Ada apa?” Tanya Nabilah.
“terima kasih karena sudah membantuku. Maaf sudah mengganggu kalian” ucapnya sambil tersenyum, lalu perlahan menghilang. Meninggalkan aku dan Nabilah di taman.
“yah, sepertinya masalah sudah selesai. Aku harap, gk akan ada kejadian kayak gini lagi!”
“iya bener! Serem gila!” timpal Nabilah.

Kami pun pergi meninggalkan taman dengan senyum ceria. Aku harap, setelah kejadian ini, tidak akan ada kejadian-kejadian aneh seperti ini lagi. Ya, aku harap.

FIN.
@ermalda_EULG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar