Final Destination.
Taman hiburan. Huh, jujur saja aku tak
begitu menyukai taman hiburan. Entah kenapa, aku juga bingung. Jujur
saja, aku sedikit tidak suka dengan keramaian. Aku lebih menyukai tempat
yang sepi, tenang, dan semacamnya dikarenakan keterbatasanku. Ya, aku
tidak seperti gadis-gadis remaja lainnya. Aku memiliki keterbatasan
mental. Namun, hal ini tidak mengurangi kecerdasan inteligensi ku. Aku
tetap bersekolah seperti gadis lainnya. Jika tidak mengingat ajakan
sahabat-sahabatku, mungkin aku lebih memilih tidur dirumah. Hvft. Aku
terus mengikuti kemana arah langkah kaki mereka. Kedua tangan ku, aku
masukan ke dalam saku jaketku. Entah kenapa, aku merasa sesuatu yang
aneh. Entah apa itu. Seperti… ada yang janggal.
“oy, Viny! Ayo sini photo!” ajak salah satu sahabatku, Tata Margareth.
“gak deh. Kalian aja!” tolakku halus.
“ah, gk asik nih lo! Ini kan, kamera punya lo! Masa lo nya gk ikut photo-photo!” bujuk sahabatku yang lain, Naomi Isabella.
“udah udah. Kalo emang Viny nya gk mau, yaudah biarin aja. Nanti juga kalo dia mau, dia nimbrung. Iya kan, Viny?”
Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan sahabatku yang lain. Noella
Kartika. Ah, dia memang yang
paling pengertian diantara
sahabat-sahabatku yang lain.
“eh, Rona mana?” tanyaku yang tak melihat salah satu sahabatku, Rona Damayanti.
“apaan nyariin gue? Kangen?”
Aku pun menoleh, dan mendapatinya sedang berdiri sambil memegang segelas pop-ice. Aku pun memutar
bola mataku.
“wess kampret!! Beli minum gk ngajak-ngajak!” ucap Tata sambil merebut
gelas pop-ice tersebut dan meminumnya. Naomi dan Noella ikut-ikutan.
“eh eh punya gue! Elah lo semua kalo mau beli dong!” protes Rona sambil
berusaha merebut pop ice nya kembali. Namun, usahanya sia-sia karena
isi di dalam gelas tersebut sudah habis oleh Tata, Noella, dan Naomi.
Rona pun menggerutu tidak jelas. Sementara aku hanya terkikik geli
melihat tingkah teman-temanku.
WUSHHHH
Tiba-tiba saja
berhembus angin yang sangat dingin, membuatku terkesiap kaget. Hembusan
angin tersebut mampu membuat bulu kudukku meremang. Oh Tuhan, ada apa
ini? Aku pun berusaha mengusir pemikiran-pemikiran burukku. Kami segera
melanjutkan perjalanan menuju wahana berikutnya. Entah aku yang memang
tidak suka ber foto, atau memang teman-temanku maniak photo, sedari tadi
kami selalu saja berfoto. Tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 10
malam. Kami pun pulang menggunakan mobil yang dikendarai oleh Naomi.
Berhubung rumahku dekat, aku diantar lebih dulu olehnya.
“Vin,
photonya di pindahin ke flashdisk gue ya. Biar bisa gue cetak. Nih
flashdisknya” ucap Naomi sambil menyerahkan sebuah flashdisk.
“iya. Tapi paling aku mindahinnya besok, soalnya kalo sekarang aku udah ngantuk” jawabku.
“iya gak papa. Yaudah kita cabut ya? Bye Viny!” ucap Naomi lalu
menjalankan mobilnya. Aku sendiri baru masuk saat mobil yang Naomi
kendarai sudah menghilang.
sepi. Selalu seperti ini. Kedua orang
tuaku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Hvft. Sebelum masuk, aku
memandangi pintu kamarku. Pintu yang terdapat banyak tulisan larangan
untuk masuk. Namun, di pintu tersebut juga tergantung sebuah papan
bertuliskan ‘Watch Out! Viny Anugerah Putri’s room! Do not enter without
permition!’. Papan yang kubuat saat aku menjejaki bangku kelas 3 SMP.
Aku hanya tersenyum tipis mengingatnya lalu membuka pintu dan berjalan
masuk. Setelah menutup pintu, aku membuka sepatu dan jaketku, lalu
rebahan di atas kasur dan tertidur.
Esoknya, aku bangun pukul
08.00. hvft, untung saja hari ini libur kuliah. Jadi aku tidak perlu
panic sambil teriak ‘aaaaaa telat!!!!!!’. Lebay. Aku tidak suka yang
seperti itu. Aku pun bangkit dari kasurku dan berjalan menuju kamar
mandi. Pukul 9 pagi, aku sudah siap kembali untuk menjalani hari.
Aku pun berjalan menuju komputerku. Tak lupa aku membawa kamera dan
juga flashdisk milik Naomi. Setelah menyambungkan kamera dan komputerku
dengan USB, aku pun melihat-lihat hasil jepretan yang diambil oleh
teman-temanku. Namun, ada beberapa foto yang aneh. Contohnya saja di
foto saat aku dan teman-temanku berfoto di depan taman hiburan. Entah
kenapa, wajah Tata menjadi blur. Padahal, wajah yang lain normal-normal
saja. Lalu foto-foto pribadi, salah satunya adalah fotoku yang sedang
berdiri bersama Noella di depan sebuah mobil tua. Ah, ini kan saat aku
dan Noella melihat sebuah mobil tua yang di pertontonkan. Huh, ini pasti
ulah iseng Rona. Karena, kalau Tata ataupun Naomi, mereka bukan
termasuk tipikal orang yang jahil seperti Rona.
Setelah memindahkan
foto-foto tersebut ke flashdisk Naomi, aku pun mematikan computer.
Setelah itu, aku mengambil jaket serta kunci mobilku, lalu pergi ke
rumah Naomi. Sesampainya di rumah Naomi, ternyata teman-temanku yang
lain tengah berkumpul.
“oy, Viny!” sapa Tata. Aku hanya mengulum senyum sambil berjalan menghampiri mereka yang mengobrol di ruang tengah.
“nih, semuanya udah aku pindahin” ucapku sambil menyerahkan flashdisk milik Naomi.
“sip, thanks ya!” ucapnya. Aku hanya mengangguk lalu duduk disebelah Naomi.
Mereka pun melanjutkan obrolan. Sementara aku hanya diam sambil
memperhatikan mereka. Entah hanya perasaanku saja atau memang terjadi,
aku merasa ada yang memperhatikan kami. Aku tidak tau darimana ‘sesuatu’
itu memperhatikan kami, karena aku sendiri tidak mencari taunya. Aku
terus memperhatikan mereka. Sesekali aku terkekeh pelan melihat
perdebatan tak penting yang mereka lakukan.
“oyy gue balik dulu ya!” ucap Tata sambil bangkit dari duduknya.
“elah, baru juga jam 11! Biasanya, lu ampe malem disini!” ucap Rona.
Tata hanya cengengesan, lalu ngeloyor pergi. Tiba-tiba otakku tertuju
pada foto-foto yang kulihat tadi. Seketika itu juga, perasaanku menjadi
tidak enak. Hal ini membuatku gelisah. Bagaimana jika foto tadi adalah
sebuah pertanda? Bagaimana jika pertanda yang dimaksud adalah pertanda
yang buruk? Sungguh. Aku tidak bisa memfungsikan kinerja otakku dengan
baik saat ini.
“OY VINY!”
Teriakan Rona membuatku tersentak kaget, dan hanya mempu mengucapkan “HAH!?”
“lo kenapa? Gelisah amat Tata pergi” Tanya Naomi. Aku tak menjawab dan terus melihat keluar.
“elah, lo kenapa sih?” Tanya Rona.
“Tata.. Tata.. Tata..” entahlah. Aku tak dapat mengeluarkan kata lain selain nama Tata. Perasaanku pun tak karuan.
“udah udah, mending sekarang kamu tenangin diri dulu. Nih, minum dulu”
ucap Noella sambil menyerahkan segelas air, yang langsung ku tenggak
hingga habis.
“nah, jelasin deh”
“Tata.. feeling aku gk enak tentang dia”
DUAAAAAARRRRR
Tepat setelah aku berkata demikian, suara ledakan terdengar begitu
keras. Kami pun saling berpandingan, lalu berlari keluar rumah. Dari
luar gerbang Naomi, kami dapat melihat puing-puing bekas ledakan, yang
kami yakini ledakan tersebut berasal dari mobil, karena salah satu
potongannya terlihat jelas. Di potongan tersebut juga menempel sebuah
plat bernomor B 1208 TA. Plat yang kami kenali. Plat mobil…… milik Tata!
Seketika itu juga tubuhku lemas. Beruntung Rona menopangku. Sementara
Naomi menangis di pelukan Noella. Jujur, aku tak menyangka segala
firasatku tentang foto, tentang Tata, akan menjadi kenyataan. Namun, aku
tak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi.
Dari warga setempat,
kami mengetahui penyebab meledaknya mobil Tata adalah tabrakan yang
dialami sebelumnya. Saat hendak keluar kompleks, tiba-tiba saja melaju
sebuah van yang langsung menabrak mobil sedan milik Tata, menyebabkan
mobil tersebut terdorong dan berhenti setelah terguling. Tangki
bensinnya mengalami kebocoran, lalu terjadi konslet yang menyebabkan
munculnya percikan api yang langsung mengenai tumpahan bensin. Oleh
sebab itu ledakan terjadi.
Kami ber-4 pun menenangkan diri di
rumah Naomi. Wajah kami semua diliputi perasaan sedih, duka, takut,
kehilangan. Tak ada yang berbicara. Sedari tadi kami hanya diam. Aku
memandang teman-temanku yang menunduk dengan tatapan kosong. Kedua
tanganku gemetar dan dingin. Wajahku pucat. Keringat dingin mengalir
keluar dari pelipisku. Kepalaku pun terasa berat, hingga semakinlama
pandanganku mengabur. Lalu semuanya gelap.
Saat tersadar, aku
sudah berada di kamar Naomi dengan dikelilingi oleh 3 sahabatku yang
lain. Aku mengerang pelan sambil memegangi kepalaku. Uhh, aku benci ini.
Diantara kami semua, memang aku yang memiliki fisik paling lemah.
“udah udah, mending lo tiduran aja. Badan lo masih lemes” ucap Naomi menahanku yang ingin berdiri.
“foto.. taman hiburan..” ucapku sambil terus memijat keningku untuk
menghilangkan rasa sakit yang menyerang kepalaku. Entah kenapa, jika
seperti ini ucapanku kadang tak jelas.
“foto? Taman hiburan? Maksud
lo, foto waktu kita di taman hiburan kemarin?” Tanya Rona memastikan.
Aku hanya bisa mengangguk. Naomi pun segera mengambil laptop beserta
flashdisknya yang ia letakkan di atas meja belajar, lalu memberikannya
padaku. Aku pun segera menyalakan laptop milik Naomi untuk melihat
foto-foto yang ku lihat tadi pagi.
“di foto ini. Blur. Wajah Tata.
Yang lain enggak” ucapku tak jelas, membuat yang lain mengernyit
bingung. Mereka pun memperhatikan foto tersebut.
“maksud kamu,
difoto ini wajah Tata nge blur, tapi yang lain enggak. Gitu?” ucap
Noella. Aku kembali mengangguk. Mereka pun kembali melihat foto
tersebut.
“ah iya. Muka Tata agak ngeblur gitu, kalo dibandingin sama yang lain!” ucap Rona yang pertama kalli menyadari.
“ah iya bener!” timpal Naomi.
“gk tau kenapa. Foto ini. Perasaan Aku. Trus Tata. Ada yang merhatiin”
ucapku lagi-lagi tak jelas. Kali ini sahabat-sahabatku hanya bengong.
“yaudah yaudah. Mending lo istirahat aja dulu. Ntar kalo udah enakan, baru nge jelasin!” ucap Naomi sambil mengambil laptopnya.
“laptop. Jangan. Foto. Aku mau liat” Naomi hanya mengangguk lalu
meletakan laptop nya di sebelahku. Setelah itu, ia bersama Rona dan
Noella berjalan keluar, meninggalkan aku sendiri di kamar ini. Aku pun
mengalihkan pandanganku kea rah laptop milik Naomi yang masih menunjukan
foto kami. Aku pun terkejut saat perlahan gambar Tata di foto tersebut
menghilang. tanpa sadar, aku beringsut mundur hingga terjatuh dari
kasur. Apakah itu sungguhan? Ya! Itu sungguhan dan terjadi tepat di
depan mataku! Oh sungguh, aku benci hal ini.
Tiba-tiba saja,
muncul sesosok makhluk berbaju hitam dan berbadan besar. Rambutnya
berantakan, wajahnya menyeramkan dengan luka disana-sini. Sungguh, aku
takut melihat makhluk tersebut. Ingin rasanya aku berlari, namun seluruh
tubuhku terasa sangat lemas hingga sulit di gerakkan. Tiba-tiba
berhembus angin yang kencang sehingga menutup jendela kamar Naomi, dan
juga menerbangkan benda-benda yang ada di atas meja.
“kalian akan
mati!!!” ucap sosok tersebut dengan suara yang keras. Aku hanya bisa
diam. Tiba-tiba saja sesuatu menarikku hingga menabrak pintu.
BRAKKKKK
Aku hanya bisa terduduk di dekat pintu sambil menahan rasa sakit di
kepala dan punggung ku. Susah payah, tanganku bergerak menggapai handle
pintu. Namun, belum sampai tanganku pada handle pintu, sosok tersebut
bergerak cepat ke arahku dan mencengkram pergelangan tanganku dengan
kuat, membuatku menjerit tertahan. Lalu, dengan kuku-kukunya yang tajam,
makhluk tersebut berniat menikamku, dan….
“AAAAAAAAAAAAAAAAAA”
DEGGG
Aku terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhku. Aku mengedarkan
pandanganku. Ah, ternyata masih di kamar Naomi. Di sebelahku, Naomi
terduduk. Wajahnya menyiratkan ke cemasan.
BRAKKKK
“kenapa
kenapa?” Rona dan Naomi tiba-tiba masuk sambil mendobrak pintu.
Dibelakangnya terdapat Noella. Wajah mereka tak jauh beda dengan Naomi.
Tunggu dulu, jadi semua itu hanya mimpi? Sungguh, mimpi tersebut
seperti kenyataan! Aku seperti mengalami langsung hal tersebut. Aku pun
melihat pergelangan tangan kiri ku. Membiru! Jadi, itu semua kenyataan?
“Vin, lo gk papa kan?” Tanya Rona cemas. Aku pun mengalihkan pandanganku ke Rona, lalu perlahan menggeleng.
“tadi kita nemuin lo pingsan di depan pintu. Wajah lo juga pucet banget, badan lo panas banget. Lo kenapa?” Tanya Naomi.
“foto. Foto tadi. Tata hilang!” bukannya menjawab pertanyaan Rona dan
Naomi, aku malah melontarkan pernyataan aneh. Naomi pun segera
memberikan laptopnya. Aku pun langsung menunjukan foto dimana gambar
Tata menghilang.
“eh? Itu Tata nya kok gk ada?” ucap Noella bingung.
Aku tak menjawab, tapi terus memperhatikan foto tersebut. Aku pun
terbelalak saat melihat kalau kali ini wajah Rona yang tiba-tiba menjadi
blur. Jujur, aku tak mengerti dengan semua ini. Dan kenapa harus aku
yang mengalami hal ini? Kenapa tidak Naomi yang pemberani? Atau Noella
yang selalu tenang dalam keadaan apapun? Kenapa harus aku yang memiliki
keterbatasan ini? Oh sungguh aku sangat sangat sangat benci hal ini. Aku
tidak suka berada dalam ketegangan, aku tidak suka berada dalam
tekanan, aku tidak suka berada dalam ketakutan. Aku tidak suka, karena
itu hanya akan menghambat pola kerja otakku.
“udah udah, kita
bahas besok aja. Kasian Viny nya. Dia perlu istirahat” ucap Noella
sambil melihatku. Aku pun menatap Noella balik.
“iya iya. Yaudah, lo istirahat ya. Kita balik ke kamar dulu” ucap Rona.
“kalian nginep?” tanyaku.
Noella mengangguk, “iya. Kita tidur di kamar tamu. Yaudah lo istirahat deh” Noella dan Rona pun menghilang di pintu.
“udah lo tidur. Biar besok enakkan” Naomi berucap sambil mematikan
laptopnya dan meletakannya di meja yang ada di samping tempat tidur. Aku
pun menuruti ucapan Naomi dan mulai merebahkan tubuhku lalu memejamkan
mataku. Tak lama aku tertidur.
**
Esoknya, aku terbangun
dengan tubuh lebih segar. Walau tak dapat di pungkiri bahwa fikiranku
masih kacau. Hvft. Jika sudah seperti ini, siap-siap saja aku menjadi
orang bodoh. Beruntung, saat ini sedang liburan sekolah. Sehingga tidak
akan ada yang mengejekku. Hari ini aku bersama sahabat-sahabatku berniat
untuk menghadiri acara pemakaman Tata. Jika boleh, aku tidak ingin
datang ke pemakaman Tata, karena hal itu akan membuat tubuhku kembali
drop. Tapi karena bujukkan teman-temanku, aku pun datang.
Di
pemakaman, aku melihat banyak keluarga Tata yang memang sudah kenal
dengan aku dan sahabat-sahabatku karena memang kami sudah seperti
keluarga. Orang tua ku juga terlihat ada disana. Aku pun segera
menghampiri kedua orang tua ku dan memeluk mereka. Orang tua ku pun
segera menenangkanku.
“udah gk usah difikirin. Nanti tubuh kamu
drop. Tata juga pasti gk mau kalo tubuh kamu drop” hibur ibuku. Aku
hanya mengangguk dipelukkan ibuku.
“ayo dong senyum. Masa anak ayah sedih terus” ucap ayahku. Aku pun melepas pelukan ibuku dan tersenyum kecil.
“yah, bund, aku ke tempat Naomi dan yang lain ya” ucap ku lalu segera
kembali ketempat Naomi dan yang lainnya. Acara pemakaman berlangsung
cepat. selepas acara pemakaman, aku dan yang lain pergi ke café dimana
kami biasa berkumpul. Kami duduk di pojok café, dimana disana terdapat 2
buah sofa berukuran sedang. Ditengah-tengah sofa tersebut terdapat meja
kecil.
Keadaan hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Kami
semua sibuk dengan fikiran masing-masing, ah bukan kami. Tapi
sahabat-sahabatku. Karena jujur, aku tak tau apa yang sedang ku
fikirkan. Aku hanya bisa diam sambil memainkan gadget ku untuk mengusir
fikiran-fikiran buruk, dan juga kejadian yang seperti mimpi itu.
“Viny..” panggil Noella. Aku pun menoleh kepadanya, seolah berkata-apa?-
“kemarin.. kenapa kamu bisa…”
“aku gk tau” ucapku memotong perkataan Noella, lalu kembali focus ke gadget ku.
“tapi kemarin….”
“aku gk tau. Pas Tata pergi, tiba-tiba aja aku ngerasa bakal terjadi
sesuatu. Terlebih soal wajah Tata yang tiba-tiba ngeblur. Semua itu
terjadi tiba-tiba. Aku juga gk tau kalo feeling aku itu bakal terjadi
kenyataan” ucapku sambil terus memainkan gadgetku, sehingga aku tidak
dapat melihat ekspresi sahabat-sahabatku.
“trus, yang kata lo ada yang merhatiin Tata?” Tanya Naomi.
“oh, kemarin pas kita ngobrol-ngobrol aku ngerasa ada yang merhatiin
kita. Dan ternyata emang bener. Ada yang merhatiin kita. Sekarang aja
dia lagi merhatiin kita” ucapku tanpa sadar.
“HAH?”
Aku tak memperdulikan mereka, dan terus memainkan gadgetku.
“Viny..!!!”
Aku kembali mengalihkan pandanganku. “apa?”
“maksud lo tadi apa? Ada yang merhatiin kita?” Tanya Rona.
“merhatiin?” tanyaku bingung.
“tadi kamu bilang ada yang merhatiin kita!” ucap Noella tak sabar.
“apaan? Kapan aku bilangnya? Orang daritadi kalian diem aja. Aku juga
daritadi main ini!” ucapku sambil menunjukan layar gadget ku yang
menunjukan sebuah permainan.
“tadi tuh lo ngomong kalo ada yang
merhatiin kita, Viny!” ucap Rona dengan nada kesal. Membuatku sedikit
tersentak. Baru kali ini Rona berbicara dengan nada seperti itu.
“aku gk tau. Yang aku tau, sedari tadi kita Cuma diam, dan aku Cuma main
gadget. Udah itu aja” ucapku dengan nada pelan. Rona seperti tersadar
akan nada ucapannya tadi.
“Udah udah. Maafin Rona karena udah ngomong kayak gitu. Iya, kita daritadi Cuma diam” ucap Naomi.
“iya maafin gue. Udah gk usah difikirin. Anggap aja tadi kita lagi gesrek otaknya” ucap Rona asal.
“yeee kalo gesrek mah, otak kamu kan emang udah gesrek!” ejek Noella mencoba mencairkan suasana.
“yee kek lu gk gesrek aje!” ucap Rona tak terima. Noella dan Naomi tertawa melihat Rona, sementara aku hanya tersenyum tipis.
“eh pesen makan kek. Garing amat keknya nih meja!” ucap Naomi sambil memanggil pelayan.
“kayak biasa ya mba?” ucap pelayan tersebut yang memang sudah hafal dengan kami.
“iya mba. Tapi, pasta sama hot chocolate nya gk ya mba” ucap Noella.
“oke mba. Ditunggu ya” ucap pelayan tersebut lalu pergi. Kami pun
melanjutkan obrolan kami. Namun, entah kenapa sedari tadi perasaanku tak
enak. Perasaan ini, sama seperti aku mendapat feeling tentang Tata.
Namun, kali ini aku tidak segelisah kemarin. Tapi tetap saja, perasaan
ini semakin menguat. Hvft.
Tak berapa lama, pesanan kami datang.
Kami pun menyantap pesanan kami diselingi bercanda. Sesekali, aku
tertawa kecil melihat ulah jahil Rona terhadap Naomi dan juga Noella
yang membuat mereka berdua menyerang Rona.
“HEY HENTIKAN TRUK TERSEBUT!!!”
“TRUK TERSEBUT TAK ADA PENGEMUDI!!”
“YANG DISANA MINGGIR!!!!”
“SEMUANYA MENJAUHHH DARI SINI!!!!!”
Teriakan-teriakan heboh tersebut membuat kami menghentikan aktivitas
kami. Kami pun menoleh kearah luar, dan mendapati sebuah truk tanpa
pengemudi melaju dengan kencang kea rah kami.
PRANGGGGG
“VINYYYY!!!!”
“NOELLA!!!!!”
“RONAAAAA!!!!!!”
Semua terjadi begitu cepat tanpa bisa kami sadari. Aku sendiri tak tau
apa yang terjadi, karena saat truk tersebut menabrak tembok yang berada
di dekat kami, Noella langsung menerjang tubuh mungilku agar aku tak
kenapa-kenapa. Aku membuka kedua mataku yang sedari tadi terpejam,
karena wajahku serasa terkena sesuatu. Aku pun memegang wajahku, dan
mendapati cairan merah dan kental di jari-jariku. Tunggu dulu. Ini
kan….darah!! tapi, darah siapa? Naomi, atau Rona?
“da..darah si..a..pa?” tanyaku terbata.
“udah ya, lo gk usah liat. Lo cukup liat gue oke?” ucap Naomi mencegah
ku untuk melihat yang terjadi. Aku pun bangkit dari posisiku yang
sebelumnya berbaring di lantai.
“tapi ini darah si.. astaga Rona!!! Rona mana?” tanyaku sambil mencari sosok Rona.
“hey hey, udah gk usah liat. Kamu cukup diam disini, oke?” Noella
membantu Naomi untuk mencegahku melihat semuanya. Apa yang sebenarnya
terjadi? Bagaimana keadaan Rona? Darah ini… apakah darah Rona?
“tapi aku mau cari Rona!!” aku terus memberontak.
“jangan Vin, udah lo disini aja”
“emang kenapa sih? Rona baik ba—“ ucapanku terhenti saat mampu melihat
semuanya. Di depan mataku, tubuh Rona sudah…ah tak bisa ku jelaskan
dengan kata-kata. Sungguh, aku sudah tak bisa mengenalinya.
Tubuhnya….sudah hancur! Sungguh, ini membuatku mual. Kakiku serasa lemas
tk bertulang. Tubuhku sudah seperti tak bernyawa. Beruntung, Naomi
segera menarikku dari pemandangan menjijikan itu.
“hey, lihat gue.
Semua akan baik-baik aja. Gk usah lo fikirin semua ini, okey?” Naomi
memegang kedua pipiku agar pandanganku tertuju kepadanya. Aku hanya diam
sambil meremas kedua tanganku yang dingin.
Oh, aku benci jika seperti
ini. Sebisa mungkin, aku mempertahankan kesadaranku. Tak berapa lama,
polisi dan tim medis datang. Aku, Naomi, dan Noella pun langsung
mendapat perawatan dari tim medis. Naomi dan Noella hanya mendapat
perawatan kecil, sementara aku diberikan alat bantu oksigen karena
memang nafasku serasa putus-putus.
Setelah melakukan perawatan,
polisi pun menanyai beberapa pertanyaan kepadaku. Namun, aku hanya diam
sambil menatap kosong tanganku yang terus saja mengeluarkan keringat
dingin. Suara-suara dari 2 orang polisi di depanku sama sekali tak masuk
ke telingaku.
“hey nak! Kau mendengarkan kami atau tidak!?” ucap
polisi itu sambil menepuk pundakku, membuatku kaget dan menatap kedua
polisi itu dengan tatapan kosong.
“pak, bisakah bapak berbicara
pelan sedikit kepada teman saya? Dia pasti mengalami shock setelah teman
baiknya tewas dengan cara seperti itu! Mohon mengertilah! Lagipula aku
dan temanku ini sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalian
berikan! Apa itu kurang? Kalau iya bapak bisa bertanya kepada kami
berdua!” Noella yang tiba-tiba datang bersama Naomi menyelamatkanku dari
kedua polisi tersebut. Setelah perbincangan singkat, kedua polisi itu
pun pergi menjauhi kami.
“lo gk papa kan?” Tanya Naomi. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
“yaudah mending sekarang kita pulang. Aku sama Naomi nginep dirumah kamu” ucap Noella sambil membantuku berjalan.
Kami pun pergi ke rumahku. Sesampainya di rumahku, kami bertiga masuk
kedalam kamarku. Sementara Noella dan Naomi merebahkan tubuh mereka, aku
berjalan menuju komputerku untuk melihat foto-foto di taman hiburan.
Aku menelisik semua foto, mulai dari foto kami bersama-sama ataupun foto
kami seorang diri. Saat di foto Tata, aku memperhatikan foto tersebut
dengan seksama. Di foto tersebut Tata berdiri di depan sebuah stand.
Namun, foto tersebut terlalu cerah membuat foto tersebut seperti
terbakar. Lalu aku pun beralih ke foto Rona, dimana difoto tersebut Rona
berdiri di depan pintu masuk. Aku kembali memperhatikan foto tersebut
dengan seksama, lalu tersentak kaget saat melihat jauh di belakang Rona
ada sebuah truk.
Melihat hal itu, aku menganalisis semua kejadian
ini. Tata tewas karena mobilnya meledak dan terbakar, sementara di foto
tubuh Tata seperti terbakar. Sementara Rona tewas karena tertabrak
Truk, dan di belakangnya terdapat truk. Ah, jangan-jangan foto-foto ini
menunjukan cara kematian mereka? Oh god! Aku pun kembali melihat foto
dimana kami ber5 ada disana. Dugaanku benar. Gambar Rona menghilang,
lalu bagian blur tersebut pindah ke orang di sebelahnya. Dan orang itu
adalah…..Naomi! aku pun mulai mencari foto Naomi, namun tak kudapatkan
foto Naomi seorang diri. Dia selalu saja berfoto bersama dengan yang
lain, entah itu berdua atau bertiga. Aku pun kembali mengamati foto
kami. Setelah di telisik, ternyata foto tersebut tidak hanya mengenai
Naomi, melainkan juga Noella! Oh tidak, apa mungkin mereka berdua akan
mati secara bersamaan?
“hey, Viny, gue sama Noella mau pergi ke supermarket. Lo mau ikut gk?” Tanya Naomi.
“gk. Kalian aja” ucapku sambil terus focus ke komputer.
“yaudah. Kalo mau nyusul, kita pergi ke supermarket deket taman hiburan kemarin” ucap Noella lalu pergi bersama Naomi.
aku menoleh kea rah mereka, “hati-hati”
mereka hanya mengacungkan jempol mereka. Aku pun kembali focus ke
computer. Aku terus menelisik foto Naomi dan Noella. Di foto tersebut,
Noella dan Naomi sedang berada di stand games tembak. Posisi mereka
adalah saling berhadapan, namun pistol milik Noella mengarah ke Naomi.
Sementara Naomi mengarahkan tangannya seolah mendorong Noella.
Dibelakang Noella pun terdapat sepertu paku-paku yang siap menancap ke
punggungnya.
Ah, sepertinya tak apa-apa, mengingat tak ada hal-hal
seperti itu. Aku pun merebahkan tubuhku di kasur tak berapa lama aku
tertidur.
***
“mi, mau beli apa?” Tanya Noella ke Naomi. Saat ini mereka sedang ada di bagian makanan ringan.
“beli cemilan-cemilan, kek chiki, permen, biscuit, atau apa dah.
Sekalian beli soft drink” ucap Naomi sambil memasukan beberapa snack ke
keranjang.
“oh, oke-oke” ucap Noella sambil ikut-ikutan memasukan
makanan ringan ke keranjang. Setelah itu, mereka mengambil beberapa
minuman dan di masukkan ke keranjang. Lalu, mereka pun berkeliling
supermarket tersebut sebelum pergi ke kasir. Di kasir, mereka kaget saat
melihat segerombolan orang bertopeng memasuki supermarket tersebut.
“HEY! Cepat keluarkan seluruh uang yang ada di kasir!!!” ucap salah
satu dari mereka sambil menodongkan sebuah pistol. Petugas kasir yang
ketakutan hanya bisa menuruti perintah orang tersebut.
Naomi dan
Noella berpandangan, lalu mengangguk. Berbekal keberanian dan juga
karate sabuk hitam, mereka pun melawan para penjahat tersebut. Keadaan
di sekitar kasir pun kacau balau, namun penjahat-penjahat itu berhasil
di lumpuhkan.
“telpon polisi” ucap Naomi ke petugas kasir yang langsung mengangguk.
“hah, baru kali ini aku berkelahi” ucap Noella.
“iya bener banget! Seru ye! Hahaha” ucap Naomi. Mereka pun tertawa
bersama. Tanpa mereka sadari, seorang dari mereka tersadar dan segera
mengambil pistol lalu menembak Noella yang membelakangi penjahat
tersebut.
“NOELLA AWAS!!!” ucap Naomi lalu mendorong Noella,
menyebabkan Naomi yang tertembak. Noella yang terdorong, tak tau kalau
dibelakangnya ada sebuah besi berujung lancip, hingga akhirnya tubuh
Noella tertusuk.
***
DEGGGG
Aku tersentak bangun
dari tidurku. Keringat dingin kembali membanjiri tubuhku. Mimpi itu
seperti nyata. Dengan terburu-buru, aku meraih jaket serta kunci motorku
untuk segera pergi ke supermarket tersebut. Sesampainya disana, aku
melihat penjahat-penjahat tersebut sudah bergeletakan sementara Naomi
dan Noella sedang tertawa. Mataku mendelik saat melihat bahwa salah
seorang penjahat bangun. Dengan cepat dan bermodal nekat, aku pun segera
menerjang penjahat tersebut sebelum ia menembak Noella, hingga
tembakannya meleset.
Sebisa mungkin aku melawan penjahat
tersebut. Namun, karena kekuatanku yang memang tak seberapa, penjahat
itu melemparku hingga membentur rak makanan. Naomi dan Noella segera
berlari menuju penjahat itu dan segera melumpuhkannya. Setelah
memastikan bahwa penjahat itu benar-benar pingsan, mereka berdua
menghampiriku yang sedang terduduk menahan sakit di kepalaku yang
terbentur rak makanan tersebut.
“kalian..gapapa?” tanyaku dengan suara pelan, karena kepalaku sakit sekali.
“gk, kita gapapa. Lo gimana?” ucap Naomi sambil memeriksa bagian tubuhku.
“gk. Aku gak papa”
Aku melihat Naomi yang kaget saat menyentuh bagian belakang kepalaku
yang berdarah. Noella dan Naomi pun segera membawaku ke rumah sakit
untuk segera mendapat pertolongan.
*****
(3 bulan kemudian)
Hari ini aku, Noella, dan Naomi duduk di taman yang biasa kami ber-5 datangi. Kami duduk sambil menatap langit.
“hvft, jadi garing ye sekarang? Kan biasanya Rona sama Tata….” Noella tak melanjutkan ucapannya. Ia terus menatap langit.
“biasanya mereka yang meramaikan suasana” ucapku melanjutkan. Naomi dan Noella pun merangkulku.
“udah gk usah sedih. Mereka disana pasti sedih kalo ngeliat kamu sedih” ucap Noella. Aku hanya tersenyum menatap mereka.
“yaudah yok cabut” kami semua pun beranjak dari sini dan berjalan
sepanjang trotoar. Kami terus berjalan dengan riang. Sesekali kami
tertawa akibat celetukan-celetukan yang Noella keluarkan untuk mengejek
Naomi.
WUSHHHH
DEGGGGG
Tiba-tiba saja berhembus
angis yang begituu dingin, membuat perasaan ku gelisah. Namun, aku
mencoba
menyembunyikan semua itu. Saat kami ingi menyebrang jalan,
tiba-tiba saja sebuah truk melaju dari arah kanan kami, sementara dari
arah kiri melaju sebuah bus. Kedua kendaraan itu melaju dengan kecepatan
tinggi dan sudah sangat dekat dengan kami. Dari tempatku, aku melihat
sosok itu. Sosok yang menyebabkan semua ini. Sosok hitam yang pernah
menyerangku.
“oh, ini bagus” ucap Noella. Sedetik kemudian, aku
merasa tubuhku terhimpit sesuatu, sedangkan kepalaku membentur suatu
yang keras. Lalu, semuanya gelap.
FIN.
regards
@ermalda_EULG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar