Minggu, 10 Agustus 2014

Final Destination

Final Destination.

Taman hiburan. Huh, jujur saja aku tak begitu menyukai taman hiburan. Entah kenapa, aku juga bingung. Jujur saja, aku sedikit tidak suka dengan keramaian. Aku lebih menyukai tempat yang sepi, tenang, dan semacamnya dikarenakan keterbatasanku. Ya, aku tidak seperti gadis-gadis remaja lainnya. Aku memiliki keterbatasan mental. Namun, hal ini tidak mengurangi kecerdasan inteligensi ku. Aku tetap bersekolah seperti gadis lainnya. Jika tidak mengingat ajakan sahabat-sahabatku, mungkin aku lebih memilih tidur dirumah. Hvft. Aku terus mengikuti kemana arah langkah kaki mereka. Kedua tangan ku, aku masukan ke dalam saku jaketku. Entah kenapa, aku merasa sesuatu yang aneh. Entah apa itu. Seperti… ada yang janggal.

“oy, Viny! Ayo sini photo!” ajak salah satu sahabatku, Tata Margareth.
“gak deh. Kalian aja!” tolakku halus.
“ah, gk asik nih lo! Ini kan, kamera punya lo! Masa lo nya gk ikut photo-photo!” bujuk sahabatku yang lain, Naomi Isabella.
“udah udah. Kalo emang Viny nya gk mau, yaudah biarin aja. Nanti juga kalo dia mau, dia nimbrung. Iya kan, Viny?”

Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan sahabatku yang lain. Noella Kartika. Ah, dia memang yang
paling pengertian diantara sahabat-sahabatku yang lain.

“eh, Rona mana?” tanyaku yang tak melihat salah satu sahabatku, Rona Damayanti.
“apaan nyariin gue? Kangen?”

Aku pun menoleh, dan mendapatinya sedang berdiri sambil memegang segelas pop-ice. Aku pun memutar
bola mataku.

“wess kampret!! Beli minum gk ngajak-ngajak!” ucap Tata sambil merebut gelas pop-ice tersebut dan meminumnya. Naomi dan Noella ikut-ikutan.
“eh eh punya gue! Elah lo semua kalo mau beli dong!” protes Rona sambil berusaha merebut pop ice nya kembali. Namun, usahanya sia-sia karena isi di dalam gelas tersebut sudah habis oleh Tata, Noella, dan Naomi. Rona pun menggerutu tidak jelas. Sementara aku hanya terkikik geli melihat tingkah teman-temanku.

WUSHHHH

Tiba-tiba saja berhembus angin yang sangat dingin, membuatku terkesiap kaget. Hembusan angin tersebut mampu membuat bulu kudukku meremang. Oh Tuhan, ada apa ini? Aku pun berusaha mengusir pemikiran-pemikiran burukku. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju wahana berikutnya. Entah aku yang memang tidak suka ber foto, atau memang teman-temanku maniak photo, sedari tadi kami selalu saja berfoto. Tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Kami pun pulang menggunakan mobil yang dikendarai oleh Naomi. Berhubung rumahku dekat, aku diantar lebih dulu olehnya.

“Vin, photonya di pindahin ke flashdisk gue ya. Biar bisa gue cetak. Nih flashdisknya” ucap Naomi sambil menyerahkan sebuah flashdisk.
“iya. Tapi paling aku mindahinnya besok, soalnya kalo sekarang aku udah ngantuk” jawabku.
“iya gak papa. Yaudah kita cabut ya? Bye Viny!” ucap Naomi lalu menjalankan mobilnya. Aku sendiri baru masuk saat mobil yang Naomi kendarai sudah menghilang.

sepi. Selalu seperti ini. Kedua orang tuaku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Hvft. Sebelum masuk, aku memandangi pintu kamarku. Pintu yang terdapat banyak tulisan larangan untuk masuk. Namun, di pintu tersebut juga tergantung sebuah papan bertuliskan ‘Watch Out! Viny Anugerah Putri’s room! Do not enter without permition!’. Papan yang kubuat saat aku menjejaki bangku kelas 3 SMP. Aku hanya tersenyum tipis mengingatnya lalu membuka pintu dan berjalan masuk. Setelah menutup pintu, aku membuka sepatu dan jaketku, lalu rebahan di atas kasur dan tertidur.

Esoknya, aku bangun pukul 08.00. hvft, untung saja hari ini libur kuliah. Jadi aku tidak perlu panic sambil teriak ‘aaaaaa telat!!!!!!’. Lebay. Aku tidak suka yang seperti itu. Aku pun bangkit dari kasurku dan berjalan menuju kamar mandi. Pukul 9 pagi, aku sudah siap kembali untuk menjalani hari.

Aku pun berjalan menuju komputerku. Tak lupa aku membawa kamera dan juga flashdisk milik Naomi. Setelah menyambungkan kamera dan komputerku dengan USB, aku pun melihat-lihat hasil jepretan yang diambil oleh teman-temanku. Namun, ada beberapa foto yang aneh. Contohnya saja di foto saat aku dan teman-temanku berfoto di depan taman hiburan. Entah kenapa, wajah Tata menjadi blur. Padahal, wajah yang lain normal-normal saja. Lalu foto-foto pribadi, salah satunya adalah fotoku yang sedang berdiri bersama Noella di depan sebuah mobil tua. Ah, ini kan saat aku dan Noella melihat sebuah mobil tua yang di pertontonkan. Huh, ini pasti ulah iseng Rona. Karena, kalau Tata ataupun Naomi, mereka bukan termasuk tipikal orang yang jahil seperti Rona.

Setelah memindahkan foto-foto tersebut ke flashdisk Naomi, aku pun mematikan computer. Setelah itu, aku mengambil jaket serta kunci mobilku, lalu pergi ke rumah Naomi. Sesampainya di rumah Naomi, ternyata teman-temanku yang lain tengah berkumpul.

“oy, Viny!” sapa Tata. Aku hanya mengulum senyum sambil berjalan menghampiri mereka yang mengobrol di ruang tengah.
“nih, semuanya udah aku pindahin” ucapku sambil menyerahkan flashdisk milik Naomi.
“sip, thanks ya!” ucapnya. Aku hanya mengangguk lalu duduk disebelah Naomi.

Mereka pun melanjutkan obrolan. Sementara aku hanya diam sambil memperhatikan mereka. Entah hanya perasaanku saja atau memang terjadi, aku merasa ada yang memperhatikan kami. Aku tidak tau darimana ‘sesuatu’ itu memperhatikan kami, karena aku sendiri tidak mencari taunya. Aku terus memperhatikan mereka. Sesekali aku terkekeh pelan melihat perdebatan tak penting yang mereka lakukan.

“oyy gue balik dulu ya!” ucap Tata sambil bangkit dari duduknya.
“elah, baru juga jam 11! Biasanya, lu ampe malem disini!” ucap Rona.

Tata hanya cengengesan, lalu ngeloyor pergi. Tiba-tiba otakku tertuju pada foto-foto yang kulihat tadi. Seketika itu juga, perasaanku menjadi tidak enak. Hal ini membuatku gelisah. Bagaimana jika foto tadi adalah sebuah pertanda? Bagaimana jika pertanda yang dimaksud adalah pertanda yang buruk? Sungguh. Aku tidak bisa memfungsikan kinerja otakku dengan baik saat ini.

“OY VINY!”

Teriakan Rona membuatku tersentak kaget, dan hanya mempu mengucapkan “HAH!?”

“lo kenapa? Gelisah amat Tata pergi” Tanya Naomi. Aku tak menjawab dan terus melihat keluar.
“elah, lo kenapa sih?” Tanya Rona.
“Tata.. Tata.. Tata..” entahlah. Aku tak dapat mengeluarkan kata lain selain nama Tata. Perasaanku pun tak karuan.
“udah udah, mending sekarang kamu tenangin diri dulu. Nih, minum dulu” ucap Noella sambil menyerahkan segelas air, yang langsung ku tenggak hingga habis.
“nah, jelasin deh”
“Tata.. feeling aku gk enak tentang dia”

DUAAAAAARRRRR

Tepat setelah aku berkata demikian, suara ledakan terdengar begitu keras. Kami pun saling berpandingan, lalu berlari keluar rumah. Dari luar gerbang Naomi, kami dapat melihat puing-puing bekas ledakan, yang kami yakini ledakan tersebut berasal dari mobil, karena salah satu potongannya terlihat jelas. Di potongan tersebut juga menempel sebuah plat bernomor B 1208 TA. Plat yang kami kenali. Plat mobil…… milik Tata! Seketika itu juga tubuhku lemas. Beruntung Rona menopangku. Sementara Naomi menangis di pelukan Noella. Jujur, aku tak menyangka segala firasatku tentang foto, tentang Tata, akan menjadi kenyataan. Namun, aku tak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi.

Dari warga setempat, kami mengetahui penyebab meledaknya mobil Tata adalah tabrakan yang dialami sebelumnya. Saat hendak keluar kompleks, tiba-tiba saja melaju sebuah van yang langsung menabrak mobil sedan milik Tata, menyebabkan mobil tersebut terdorong dan berhenti setelah terguling. Tangki bensinnya mengalami kebocoran, lalu terjadi konslet yang menyebabkan munculnya percikan api yang langsung mengenai tumpahan bensin. Oleh sebab itu ledakan terjadi.

Kami ber-4 pun menenangkan diri di rumah Naomi. Wajah kami semua diliputi perasaan sedih, duka, takut, kehilangan. Tak ada yang berbicara. Sedari tadi kami hanya diam. Aku memandang teman-temanku yang menunduk dengan tatapan kosong. Kedua tanganku gemetar dan dingin. Wajahku pucat. Keringat dingin mengalir keluar dari pelipisku. Kepalaku pun terasa berat, hingga semakinlama pandanganku mengabur. Lalu semuanya gelap.

Saat tersadar, aku sudah berada di kamar Naomi dengan dikelilingi oleh 3 sahabatku yang lain. Aku mengerang pelan sambil memegangi kepalaku. Uhh, aku benci ini. Diantara kami semua, memang aku yang memiliki fisik paling lemah.

“udah udah, mending lo tiduran aja. Badan lo masih lemes” ucap Naomi menahanku yang ingin berdiri.
“foto.. taman hiburan..” ucapku sambil terus memijat keningku untuk menghilangkan rasa sakit yang menyerang kepalaku. Entah kenapa, jika seperti ini ucapanku kadang tak jelas.
“foto? Taman hiburan? Maksud lo, foto waktu kita di taman hiburan kemarin?” Tanya Rona memastikan. Aku hanya bisa mengangguk. Naomi pun segera mengambil laptop beserta flashdisknya yang ia letakkan di atas meja belajar, lalu memberikannya padaku. Aku pun segera menyalakan laptop milik Naomi untuk melihat foto-foto yang ku lihat tadi pagi.
“di foto ini. Blur. Wajah Tata. Yang lain enggak” ucapku tak jelas, membuat yang lain mengernyit bingung. Mereka pun memperhatikan foto tersebut.
“maksud kamu, difoto ini wajah Tata nge blur, tapi yang lain enggak. Gitu?” ucap Noella. Aku kembali mengangguk. Mereka pun kembali melihat foto tersebut.
“ah iya. Muka Tata agak ngeblur gitu, kalo dibandingin sama yang lain!” ucap Rona yang pertama kalli menyadari.
“ah iya bener!” timpal Naomi.
“gk tau kenapa. Foto ini. Perasaan Aku. Trus Tata. Ada yang merhatiin” ucapku lagi-lagi tak jelas. Kali ini sahabat-sahabatku hanya bengong.
“yaudah yaudah. Mending lo istirahat aja dulu. Ntar kalo udah enakan, baru nge jelasin!” ucap Naomi sambil mengambil laptopnya.
“laptop. Jangan. Foto. Aku mau liat” Naomi hanya mengangguk lalu meletakan laptop nya di sebelahku. Setelah itu, ia bersama Rona dan Noella berjalan keluar, meninggalkan aku sendiri di kamar ini. Aku pun mengalihkan pandanganku kea rah laptop milik Naomi yang masih menunjukan foto kami. Aku pun terkejut saat perlahan gambar Tata di foto tersebut menghilang. tanpa sadar, aku beringsut mundur hingga terjatuh dari kasur. Apakah itu sungguhan? Ya! Itu sungguhan dan terjadi tepat di depan mataku! Oh sungguh, aku benci hal ini.

Tiba-tiba saja, muncul sesosok makhluk berbaju hitam dan berbadan besar. Rambutnya berantakan, wajahnya menyeramkan dengan luka disana-sini. Sungguh, aku takut melihat makhluk tersebut. Ingin rasanya aku berlari, namun seluruh tubuhku terasa sangat lemas hingga sulit di gerakkan. Tiba-tiba berhembus angin yang kencang sehingga menutup jendela kamar Naomi, dan juga menerbangkan benda-benda yang ada di atas meja.

“kalian akan mati!!!” ucap sosok tersebut dengan suara yang keras. Aku hanya bisa diam. Tiba-tiba saja sesuatu menarikku hingga menabrak pintu.

BRAKKKKK

Aku hanya bisa terduduk di dekat pintu sambil menahan rasa sakit di kepala dan punggung ku. Susah payah, tanganku bergerak menggapai handle pintu. Namun, belum sampai tanganku pada handle pintu, sosok tersebut bergerak cepat ke arahku dan mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat, membuatku menjerit tertahan. Lalu, dengan kuku-kukunya yang tajam, makhluk tersebut berniat menikamku, dan….

“AAAAAAAAAAAAAAAAAA”

DEGGG

Aku terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhku. Aku mengedarkan pandanganku. Ah, ternyata masih di kamar Naomi. Di sebelahku, Naomi terduduk. Wajahnya menyiratkan ke cemasan.

BRAKKKK

“kenapa kenapa?” Rona dan Naomi tiba-tiba masuk sambil mendobrak pintu. Dibelakangnya terdapat Noella. Wajah mereka tak jauh beda dengan Naomi.

Tunggu dulu, jadi semua itu hanya mimpi? Sungguh, mimpi tersebut seperti kenyataan! Aku seperti mengalami langsung hal tersebut. Aku pun melihat pergelangan tangan kiri ku. Membiru! Jadi, itu semua kenyataan?

“Vin, lo gk papa kan?” Tanya Rona cemas. Aku pun mengalihkan pandanganku ke Rona, lalu perlahan menggeleng.
“tadi kita nemuin lo pingsan di depan pintu. Wajah lo juga pucet banget, badan lo panas banget. Lo kenapa?” Tanya Naomi.
“foto. Foto tadi. Tata hilang!” bukannya menjawab pertanyaan Rona dan Naomi, aku malah melontarkan pernyataan aneh. Naomi pun segera memberikan laptopnya. Aku pun langsung menunjukan foto dimana gambar Tata menghilang.
“eh? Itu Tata nya kok gk ada?” ucap Noella bingung.

Aku tak menjawab, tapi terus memperhatikan foto tersebut. Aku pun terbelalak saat melihat kalau kali ini wajah Rona yang tiba-tiba menjadi blur. Jujur, aku tak mengerti dengan semua ini. Dan kenapa harus aku yang mengalami hal ini? Kenapa tidak Naomi yang pemberani? Atau Noella yang selalu tenang dalam keadaan apapun? Kenapa harus aku yang memiliki keterbatasan ini? Oh sungguh aku sangat sangat sangat benci hal ini. Aku tidak suka berada dalam ketegangan, aku tidak suka berada dalam tekanan, aku tidak suka berada dalam ketakutan. Aku tidak suka, karena itu hanya akan menghambat pola kerja otakku.

“udah udah, kita bahas besok aja. Kasian Viny nya. Dia perlu istirahat” ucap Noella sambil melihatku. Aku pun menatap Noella balik.
“iya iya. Yaudah, lo istirahat ya. Kita balik ke kamar dulu” ucap Rona.
“kalian nginep?” tanyaku.
Noella mengangguk, “iya. Kita tidur di kamar tamu. Yaudah lo istirahat deh” Noella dan Rona pun menghilang di pintu.
“udah lo tidur. Biar besok enakkan” Naomi berucap sambil mematikan laptopnya dan meletakannya di meja yang ada di samping tempat tidur. Aku pun menuruti ucapan Naomi dan mulai merebahkan tubuhku lalu memejamkan mataku. Tak lama aku tertidur.

**

Esoknya, aku terbangun dengan tubuh lebih segar. Walau tak dapat di pungkiri bahwa fikiranku masih kacau. Hvft. Jika sudah seperti ini, siap-siap saja aku menjadi orang bodoh. Beruntung, saat ini sedang liburan sekolah. Sehingga tidak akan ada yang mengejekku. Hari ini aku bersama sahabat-sahabatku berniat untuk menghadiri acara pemakaman Tata. Jika boleh, aku tidak ingin datang ke pemakaman Tata, karena hal itu akan membuat tubuhku kembali drop. Tapi karena bujukkan teman-temanku, aku pun datang.

Di pemakaman, aku melihat banyak keluarga Tata yang memang sudah kenal dengan aku dan sahabat-sahabatku karena memang kami sudah seperti keluarga. Orang tua ku juga terlihat ada disana. Aku pun segera menghampiri kedua orang tua ku dan memeluk mereka. Orang tua ku pun segera menenangkanku.

“udah gk usah difikirin. Nanti tubuh kamu drop. Tata juga pasti gk mau kalo tubuh kamu drop” hibur ibuku. Aku hanya mengangguk dipelukkan ibuku.
“ayo dong senyum. Masa anak ayah sedih terus” ucap ayahku. Aku pun melepas pelukan ibuku dan tersenyum kecil.
“yah, bund, aku ke tempat Naomi dan yang lain ya” ucap ku lalu segera kembali ketempat Naomi dan yang lainnya. Acara pemakaman berlangsung cepat. selepas acara pemakaman, aku dan yang lain pergi ke café dimana kami biasa berkumpul. Kami duduk di pojok café, dimana disana terdapat 2 buah sofa berukuran sedang. Ditengah-tengah sofa tersebut terdapat meja kecil.

Keadaan hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Kami semua sibuk dengan fikiran masing-masing, ah bukan kami. Tapi sahabat-sahabatku. Karena jujur, aku tak tau apa yang sedang ku fikirkan. Aku hanya bisa diam sambil memainkan gadget ku untuk mengusir fikiran-fikiran buruk, dan juga kejadian yang seperti mimpi itu.

“Viny..” panggil Noella. Aku pun menoleh kepadanya, seolah berkata-apa?-
“kemarin.. kenapa kamu bisa…”
“aku gk tau” ucapku memotong perkataan Noella, lalu kembali focus ke gadget ku.
“tapi kemarin….”
“aku gk tau. Pas Tata pergi, tiba-tiba aja aku ngerasa bakal terjadi sesuatu. Terlebih soal wajah Tata yang tiba-tiba ngeblur. Semua itu terjadi tiba-tiba. Aku juga gk tau kalo feeling aku itu bakal terjadi kenyataan” ucapku sambil terus memainkan gadgetku, sehingga aku tidak dapat melihat ekspresi sahabat-sahabatku.
“trus, yang kata lo ada yang merhatiin Tata?” Tanya Naomi.
“oh, kemarin pas kita ngobrol-ngobrol aku ngerasa ada yang merhatiin kita. Dan ternyata emang bener. Ada yang merhatiin kita. Sekarang aja dia lagi merhatiin kita” ucapku tanpa sadar.
“HAH?”

Aku tak memperdulikan mereka, dan terus memainkan gadgetku.

“Viny..!!!”
Aku kembali mengalihkan pandanganku. “apa?”
“maksud lo tadi apa? Ada yang merhatiin kita?” Tanya Rona.
“merhatiin?” tanyaku bingung.
“tadi kamu bilang ada yang merhatiin kita!” ucap Noella tak sabar.
“apaan? Kapan aku bilangnya? Orang daritadi kalian diem aja. Aku juga daritadi main ini!” ucapku sambil menunjukan layar gadget ku yang menunjukan sebuah permainan.
“tadi tuh lo ngomong kalo ada yang merhatiin kita, Viny!” ucap Rona dengan nada kesal. Membuatku sedikit tersentak. Baru kali ini Rona berbicara dengan nada seperti itu.
“aku gk tau. Yang aku tau, sedari tadi kita Cuma diam, dan aku Cuma main gadget. Udah itu aja” ucapku dengan nada pelan. Rona seperti tersadar akan nada ucapannya tadi.
“Udah udah. Maafin Rona karena udah ngomong kayak gitu. Iya, kita daritadi Cuma diam” ucap Naomi.
“iya maafin gue. Udah gk usah difikirin. Anggap aja tadi kita lagi gesrek otaknya” ucap Rona asal.
“yeee kalo gesrek mah, otak kamu kan emang udah gesrek!” ejek Noella mencoba mencairkan suasana.
“yee kek lu gk gesrek aje!” ucap Rona tak terima. Noella dan Naomi tertawa melihat Rona, sementara aku hanya tersenyum tipis.
“eh pesen makan kek. Garing amat keknya nih meja!” ucap Naomi sambil memanggil pelayan.
“kayak biasa ya mba?” ucap pelayan tersebut yang memang sudah hafal dengan kami.
“iya mba. Tapi, pasta sama hot chocolate nya gk ya mba” ucap Noella.
“oke mba. Ditunggu ya” ucap pelayan tersebut lalu pergi. Kami pun melanjutkan obrolan kami. Namun, entah kenapa sedari tadi perasaanku tak enak. Perasaan ini, sama seperti aku mendapat feeling tentang Tata.

Namun, kali ini aku tidak segelisah kemarin. Tapi tetap saja, perasaan ini semakin menguat. Hvft.
Tak berapa lama, pesanan kami datang. Kami pun menyantap pesanan kami diselingi bercanda. Sesekali, aku tertawa kecil melihat ulah jahil Rona terhadap Naomi dan juga Noella yang membuat mereka berdua menyerang Rona.

“HEY HENTIKAN TRUK TERSEBUT!!!”
“TRUK TERSEBUT TAK ADA PENGEMUDI!!”
“YANG DISANA MINGGIR!!!!”
“SEMUANYA MENJAUHHH DARI SINI!!!!!”

Teriakan-teriakan heboh tersebut membuat kami menghentikan aktivitas kami. Kami pun menoleh kearah luar, dan mendapati sebuah truk tanpa pengemudi melaju dengan kencang kea rah kami.

PRANGGGGG

“VINYYYY!!!!”

“NOELLA!!!!!”

“RONAAAAA!!!!!!”

Semua terjadi begitu cepat tanpa bisa kami sadari. Aku sendiri tak tau apa yang terjadi, karena saat truk tersebut menabrak tembok yang berada di dekat kami, Noella langsung menerjang tubuh mungilku agar aku tak kenapa-kenapa. Aku membuka kedua mataku yang sedari tadi terpejam, karena wajahku serasa terkena sesuatu. Aku pun memegang wajahku, dan mendapati cairan merah dan kental di jari-jariku. Tunggu dulu. Ini kan….darah!! tapi, darah siapa? Naomi, atau Rona?

“da..darah si..a..pa?” tanyaku terbata.
“udah ya, lo gk usah liat. Lo cukup liat gue oke?” ucap Naomi mencegah ku untuk melihat yang terjadi. Aku pun bangkit dari posisiku yang sebelumnya berbaring di lantai.
“tapi ini darah si.. astaga Rona!!! Rona mana?” tanyaku sambil mencari sosok Rona.
“hey hey, udah gk usah liat. Kamu cukup diam disini, oke?” Noella membantu Naomi untuk mencegahku melihat semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana keadaan Rona? Darah ini… apakah darah Rona?
“tapi aku mau cari Rona!!” aku terus memberontak.
“jangan Vin, udah lo disini aja”
“emang kenapa sih? Rona baik ba—“ ucapanku terhenti saat mampu melihat semuanya. Di depan mataku, tubuh Rona sudah…ah tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata. Sungguh, aku sudah tak bisa mengenalinya. Tubuhnya….sudah hancur! Sungguh, ini membuatku mual. Kakiku serasa lemas tk bertulang. Tubuhku sudah seperti tak bernyawa. Beruntung, Naomi segera menarikku dari pemandangan menjijikan itu.
“hey, lihat gue. Semua akan baik-baik aja. Gk usah lo fikirin semua ini, okey?” Naomi memegang kedua pipiku agar pandanganku tertuju kepadanya. Aku hanya diam sambil meremas kedua tanganku yang dingin.

Oh, aku benci jika seperti ini. Sebisa mungkin, aku mempertahankan kesadaranku. Tak berapa lama, polisi dan tim medis datang. Aku, Naomi, dan Noella pun langsung mendapat perawatan dari tim medis. Naomi dan Noella hanya mendapat perawatan kecil, sementara aku diberikan alat bantu oksigen karena memang nafasku serasa putus-putus.

Setelah melakukan perawatan, polisi pun menanyai beberapa pertanyaan kepadaku. Namun, aku hanya diam sambil menatap kosong tanganku yang terus saja mengeluarkan keringat dingin. Suara-suara dari 2 orang polisi di depanku sama sekali tak masuk ke telingaku.

“hey nak! Kau mendengarkan kami atau tidak!?” ucap polisi itu sambil menepuk pundakku, membuatku kaget dan menatap kedua polisi itu dengan tatapan kosong.
“pak, bisakah bapak berbicara pelan sedikit kepada teman saya? Dia pasti mengalami shock setelah teman baiknya tewas dengan cara seperti itu! Mohon mengertilah! Lagipula aku dan temanku ini sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalian berikan! Apa itu kurang? Kalau iya bapak bisa bertanya kepada kami berdua!” Noella yang tiba-tiba datang bersama Naomi menyelamatkanku dari kedua polisi tersebut. Setelah perbincangan singkat, kedua polisi itu pun pergi menjauhi kami.
“lo gk papa kan?” Tanya Naomi. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
“yaudah mending sekarang kita pulang. Aku sama Naomi nginep dirumah kamu” ucap Noella sambil membantuku berjalan.

Kami pun pergi ke rumahku. Sesampainya di rumahku, kami bertiga masuk kedalam kamarku. Sementara Noella dan Naomi merebahkan tubuh mereka, aku berjalan menuju komputerku untuk melihat foto-foto di taman hiburan. Aku menelisik semua foto, mulai dari foto kami bersama-sama ataupun foto kami seorang diri. Saat di foto Tata, aku memperhatikan foto tersebut dengan seksama. Di foto tersebut Tata berdiri di depan sebuah stand. Namun, foto tersebut terlalu cerah membuat foto tersebut seperti terbakar. Lalu aku pun beralih ke foto Rona, dimana difoto tersebut Rona berdiri di depan pintu masuk. Aku kembali memperhatikan foto tersebut dengan seksama, lalu tersentak kaget saat melihat jauh di belakang Rona ada sebuah truk.

Melihat hal itu, aku menganalisis semua kejadian ini. Tata tewas karena mobilnya meledak dan terbakar, sementara di foto tubuh Tata seperti terbakar. Sementara Rona tewas karena tertabrak Truk, dan di belakangnya terdapat truk. Ah, jangan-jangan foto-foto ini menunjukan cara kematian mereka? Oh god! Aku pun kembali melihat foto dimana kami ber5 ada disana. Dugaanku benar. Gambar Rona menghilang, lalu bagian blur tersebut pindah ke orang di sebelahnya. Dan orang itu adalah…..Naomi! aku pun mulai mencari foto Naomi, namun tak kudapatkan foto Naomi seorang diri. Dia selalu saja berfoto bersama dengan yang lain, entah itu berdua atau bertiga. Aku pun kembali mengamati foto kami. Setelah di telisik, ternyata foto tersebut tidak hanya mengenai Naomi, melainkan juga Noella! Oh tidak, apa mungkin mereka berdua akan mati secara bersamaan?

“hey, Viny, gue sama Noella mau pergi ke supermarket. Lo mau ikut gk?” Tanya Naomi.
“gk. Kalian aja” ucapku sambil terus focus ke komputer.
“yaudah. Kalo mau nyusul, kita pergi ke supermarket deket taman hiburan kemarin” ucap Noella lalu pergi bersama Naomi.
aku menoleh kea rah mereka, “hati-hati”

mereka hanya mengacungkan jempol mereka. Aku pun kembali focus ke computer. Aku terus menelisik foto Naomi dan Noella. Di foto tersebut, Noella dan Naomi sedang berada di stand games tembak. Posisi mereka adalah saling berhadapan, namun pistol milik Noella mengarah ke Naomi. Sementara Naomi mengarahkan tangannya seolah mendorong Noella. Dibelakang Noella pun terdapat sepertu paku-paku yang siap menancap ke punggungnya.
Ah, sepertinya tak apa-apa, mengingat tak ada hal-hal seperti itu. Aku pun merebahkan tubuhku di kasur tak berapa lama aku tertidur.

***

“mi, mau beli apa?” Tanya Noella ke Naomi. Saat ini mereka sedang ada di bagian makanan ringan.
“beli cemilan-cemilan, kek chiki, permen, biscuit, atau apa dah. Sekalian beli soft drink” ucap Naomi sambil memasukan beberapa snack ke keranjang.
“oh, oke-oke” ucap Noella sambil ikut-ikutan memasukan makanan ringan ke keranjang. Setelah itu, mereka mengambil beberapa minuman dan di masukkan ke keranjang. Lalu, mereka pun berkeliling supermarket tersebut sebelum pergi ke kasir. Di kasir, mereka kaget saat melihat segerombolan orang bertopeng memasuki supermarket tersebut.
“HEY! Cepat keluarkan seluruh uang yang ada di kasir!!!” ucap salah satu dari mereka sambil menodongkan sebuah pistol. Petugas kasir yang ketakutan hanya bisa menuruti perintah orang tersebut.
Naomi dan Noella berpandangan, lalu mengangguk. Berbekal keberanian dan juga karate sabuk hitam, mereka pun melawan para penjahat tersebut. Keadaan di sekitar kasir pun kacau balau, namun penjahat-penjahat itu berhasil di lumpuhkan.
“telpon polisi” ucap Naomi ke petugas kasir yang langsung mengangguk.
“hah, baru kali ini aku berkelahi” ucap Noella.
“iya bener banget! Seru ye! Hahaha” ucap Naomi. Mereka pun tertawa bersama. Tanpa mereka sadari, seorang dari mereka tersadar dan segera mengambil pistol lalu menembak Noella yang membelakangi penjahat tersebut.
“NOELLA AWAS!!!” ucap Naomi lalu mendorong Noella, menyebabkan Naomi yang tertembak. Noella yang terdorong, tak tau kalau dibelakangnya ada sebuah besi berujung lancip, hingga akhirnya tubuh Noella tertusuk.

***

DEGGGG

Aku tersentak bangun dari tidurku. Keringat dingin kembali membanjiri tubuhku. Mimpi itu seperti nyata. Dengan terburu-buru, aku meraih jaket serta kunci motorku untuk segera pergi ke supermarket tersebut. Sesampainya disana, aku melihat penjahat-penjahat tersebut sudah bergeletakan sementara Naomi dan Noella sedang tertawa. Mataku mendelik saat melihat bahwa salah seorang penjahat bangun. Dengan cepat dan bermodal nekat, aku pun segera menerjang penjahat tersebut sebelum ia menembak Noella, hingga tembakannya meleset.

Sebisa mungkin aku melawan penjahat tersebut. Namun, karena kekuatanku yang memang tak seberapa, penjahat itu melemparku hingga membentur rak makanan. Naomi dan Noella segera berlari menuju penjahat itu dan segera melumpuhkannya. Setelah memastikan bahwa penjahat itu benar-benar pingsan, mereka berdua menghampiriku yang sedang terduduk menahan sakit di kepalaku yang terbentur rak makanan tersebut.

“kalian..gapapa?” tanyaku dengan suara pelan, karena kepalaku sakit sekali.
“gk, kita gapapa. Lo gimana?” ucap Naomi sambil memeriksa bagian tubuhku.
“gk. Aku gak papa”

Aku melihat Naomi yang kaget saat menyentuh bagian belakang kepalaku yang berdarah. Noella dan Naomi pun segera membawaku ke rumah sakit untuk segera mendapat pertolongan.

*****

(3 bulan kemudian)

Hari ini aku, Noella, dan Naomi duduk di taman yang biasa kami ber-5 datangi. Kami duduk sambil menatap langit.

“hvft, jadi garing ye sekarang? Kan biasanya Rona sama Tata….” Noella tak melanjutkan ucapannya. Ia terus menatap langit.
“biasanya mereka yang meramaikan suasana” ucapku melanjutkan. Naomi dan Noella pun merangkulku.
“udah gk usah sedih. Mereka disana pasti sedih kalo ngeliat kamu sedih” ucap Noella. Aku hanya tersenyum menatap mereka.
“yaudah yok cabut” kami semua pun beranjak dari sini dan berjalan sepanjang trotoar. Kami terus berjalan dengan riang. Sesekali kami tertawa akibat celetukan-celetukan yang Noella keluarkan untuk mengejek Naomi.

WUSHHHH

DEGGGGG

Tiba-tiba saja berhembus angis yang begituu dingin, membuat perasaan ku gelisah. Namun, aku mencoba
 menyembunyikan semua itu. Saat kami ingi menyebrang jalan, tiba-tiba saja sebuah truk melaju dari arah kanan kami, sementara dari arah kiri melaju sebuah bus. Kedua kendaraan itu melaju dengan kecepatan tinggi dan sudah sangat dekat dengan kami. Dari tempatku, aku melihat sosok itu. Sosok yang menyebabkan semua ini. Sosok hitam yang pernah menyerangku.

“oh, ini bagus” ucap Noella. Sedetik kemudian, aku merasa tubuhku terhimpit sesuatu, sedangkan kepalaku membentur suatu yang keras. Lalu, semuanya gelap.

FIN.
regards
@ermalda_EULG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar