Minggu, 10 Agustus 2014

Karena Kita Tak Mungkin Bersatu

Karena kita tak mungkin bersatu.
Aku terduduk diam di bangku taman yang langsung mengarah ke lapangan basket. Di tanganku, terdapat sebuah buku dan juga sebatang pensil yang ku gunakan untuk menggambar pemandangan yang ada di depan ku. Pemandangan yang menurutku sangat indah. Ah, sungguh. Tak ada hal lain yang lebih indah daripada memperhatikannya. Ya, dia. Agus Nugroho. Entahlah, apa yang membuatku menyukainya. Mungkin, dari ketampanannya? Atau mungkin kecerdasannya? Atau, dari charisma nya dalam memainkan si kulit bundar berwarna orange itu? Aku juga tak tau alasannya, dan tak pernah mau tau apa alasannya.
Aku tersenyum saat melihat dia tertawa begitu berhasil memasukan bola itu kedalam ring nya. Ah, tawanya sungguh mempesona. Aku pun mencoba memvisualisasikan apa yang baru saja ku lihat di buku milikku. Di bagian bawah gambar tersebut, aku menuliskan sebuah kalimat.
‘tawamu adalah tawaku. Jadi, ku harap kau selalu tertawa untukku!’
Aku tersenyum melihat hasil karyaku, lalu kembali melihat lapangan basket. Aku hanya bisa tersenyum miris saat seorang gadis cantik berjalan dengan menghampirinya sambil membawa sehelai handuk dan juga sebotol minuman. Sedetik kemudian, aku melihat dia menolak handuk dan botol minuman tersebut lalu berjalan pergi bersama kawan-kawannya. Dalam hati aku tertawa melihat cewek itu.
“oy, Shania, ngeliatin doi lagi?” ucap salah sahabatku sambil menepuk bahu ku keras, membuat buku dan pensil yang ku pegang terjatuh begitu saja. Aku pun mendelik kea rah sahabatku itu, lalu mengambil buku serta pensilku.
“sekali aja, gk ngagetin. Bisa gk sih?” ucapku sedikit kesal akibat ulahnya. Dia hanya cengengesan.
“hehe maaf lah! Jangan melotot kek gitu. Mau keluar tuh mata!”
Aku hanya memutar kedua bola mataku. “ngapain kesini? Bukannya kamu lagi sama Rio?”
“doi lagi dipanggil sama bu Melody. Makanya aku nyamperin kamu!” ucapnya.
“elah ibu. Biasa juga kamu manggilnya kak Melody!” ejekku.
“yeee gini-gini seorang Nabilah Ratna Ayu bisa menempatkan diri! Karena lagi disekolah, ya panggilnya ibu” ucapnya sambil sedikit membusungkan badan.
“bunglon dong?” cetusku, membuat ia memajukan bibirnya. Aku hanya cengengesan.
“udah gk usah manyun-manyun. Mending kita ke kelas. Bentar lagi bel” ajakku sambil merangkulnya. Ia hanya mengangguk. Kami pun berjalan menuju kelas kami. Sepanjang koridor, kami terus mengobrol ini itu, hingga tak terasa kami sudah sampai di kelas. Di dalam kelas, mataku menangkap sesosok orang yang ku cintai. Ya, dia Agus. Ah, ingin rasanya aku memilikinya. Namun aku sadar, ada jarak yang begitu lebar yang memisahkan kami berdua. Jarak, yang membuat kami tidak akan bisa menyatu.
Saat berjalan menuju tempat dudukku, aku terus memperhatikanya, hingga sampai pada akhirnya ia melihat ke arahku. Pandangan kami berdua pun bertabrakan. Aku pun memberikan senyum terbaikku, yang menyebabkan lesung pipi terlihat di kedua pipiku dan mataku menyipit. Aku pun langsung mengalihkan pandanganku dan duduk di tempatku. Dari tempatku, aku dapat mendengar teman-temannya menggodanya.
“ah ciee, Nju, ekhem ekhem” ejek Nabilah, membuat kedua pipi ku memerah.
“ah, apasih Nab!” elakku, namun Nabilah terus menggodaku. Godaannya baru berhenti saat guru mata pelajaran memasuki kelas. Kami pun mendengarkan guru tersebut menerangkan materi tentang lingkungan social.
“baiklah. Bapak akan memberi tugas kelompok. Satu kelompok 2 orang. Cewek-cowok. Bapak akan memilih secara acak”
Mendengar itu, tanpa sadar hatiku berteriak agar aku sekelompok dengannya.
“kelompok 11, Nabilah Ratna dan Agrario Maulana. Kelompok 12, Shania Junianatha dan Agus Nugroho”
Kelompok selanjutnya sudah tak bisa ku dengar. Hatiku sudah terlalu bahagia mendengar bahwa aku sekelompok dengan pujaanku, sekelompok dengan pemuda yang aku cintai. Tanpa sadar, aku mengalihkan pandanganku kepadanya, yang ternyata ia juga sedang menatapku. Aku pun tersenyum. Hatiku bertambah senang ketika ia membalas senyumku.
“baiklah. Sekarang kalian bisa duduk dengan pasangan kelompok masing-masing untuk mendiskusikan tentang makalah yang akan kalian kerjakan”
Hatiku berdebar tak karuan saat melihar dia berjalan menuju bangkuku. Sebisa mungkin aku menahan diri agar tidak keliatan salah tingkah di depannya.
“hai” sapanya.
“eh, hai”
Aku hanya bisa tersenyum kikuk. Ia pun duduk di bangku Nabilah. Nabilahnya sendiri sudah ngacir ke tempat duduk Rio. Kami pun mendiskusikan tempat mana yang akan kami kunjungi untuk pembuatan makalah. Berkali-kali, pendapat kami sama. Namun yang kami lakukan hanya saling melempar senyum lalu mencari tempat lain.
“eh, em, gimana kalo kita ke panti asuhan aja?” usulku.
“wah, boleh tuh! Kalo bisa panti asuhan yatim piatu” ucapnya menyetujui.
“heem. Kebetulan, aku tau panti asuhan yatim piatu!”
“yaudah. Kan tugasnya di kumpul minggu depan. Kita mulai riset nanti pulang sekolah gimana?” ajaknya.
“aku terserah aja. Eh, tapi kita naik apa kesananya?” tanyaku.
“kebetulan aku bawa motor. Nanti kita naik motor aku aja” ucapnya.
HUWAAAT!? Naik motor berdua sama Agus? Oh sungguh, ini jauh melebih harapanku. Aku hanya bisa mengiyakan ajakannya. Setelah bahasan itu, keadaan hening. Ia hanya diam sambil membaca komik yang ia bawa tadi. Sementara aku memperhatikannya dari samping. Sungguh, ia sangat tampan. Hidungnya mancung, matanya hitam, tatapannya yang tajam bagai elang namun menyejukkan, tulang pipi nya yang menonjol, ah sungguh. Ia bagaikan malaikat yang turun dari surga.
“kenapa ngeliatin aku? Ganteng ya?” ucapnya tiba-tiba.
“banget!!!” ceplosku. Sedetik kemudian, aku diam sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku yakin, pipiku sudah memerah saat ini.
“kamu juga cantik kok” pujinya.
Oh Tuhan. Jika ini film kartun, aku yakin mukaku sudah memerah seperti terbakar, setelah itu aku akan senyum-senyum sok imut. Tapi untungnya, ini dunia nyata, sehingga saat ini aku tidak akan seperti itu. Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku di balik kedua telapak tanganku.
“eh, em, aku minta nomor kamu, boleh?” tanyanya.
“eh, em boleh kok. Mana HP kamu?” ucapku. Ia pun memberikan ponselnya. Aku pun segera menuliskan nomor ponselku disana.
“nih, udah aku simpen. Namanya Shanju”
“makasih ya ” ucapnya sambil tersenyum begitu manis. Aaahhh, jika seperti ini terus, aku pasti akan terserang diabetes mendadak hanya karena melihat senyum milik Agus. Oke, mungkin menurut kalian ini lebay, tapi begitulah kenyataan.
“ah, i..iya!” jawabku. Hvft. Lidahku serasa kelu untuk menjawab pertanyaannya.
“ah, umm, yaudah aku ke balik ke tempatku ya” ucapnya saat guru sudah pergi. Jadilah, sisa jam pelajaran ku lalui dengan begitu semangat.
Akhirnya, saat yang ku tunggu tiba. Yap, bel pulang pun berbunyi. Aku pun segera membereskan peralatan sekolahku. Baru saja aku ingin berjalan menuju parkiran, Agus menghampiriku dan mengajakku pergi ke parkiran bersama. Tanpa ragu-ragu, aku menerima ajakannya. Sepanjang koridor menuju parkiran, kami mengobrol cukup banyak. Hingga tanpa sadar, kami sudah sampai di parkiran. Kami pun segera pergi menuju sebuah panti asuhan yang terletak di pinggiran Jakarta.
****
(AGUS P.O.V)
“KAK SHANJUUUUU!!!!”
Teriakan anak-anak kecil menyambut kami saat kami sampai di panti asuhan tersebut. Ku lirik gadis di sebelahku yang tersenyum begitu riang menyambut anak-anak yang berlarian menghampiri kami. Setelah memarkirkan motor, aku pun berjalan dengan tenang menghampirinya.
“haii!!!” sapaku pada anak-anak tersebut.
“hai juga kakak ganteng!!!” aku hanya cengengesan mendengar ucapan anak-anak itu.
“ah iya. Kenalin, ini kak Agus, teman sekolah kakak”
“hai kak Agus! Kakak cakep deh, cocok sama kak Shanju!” celetuk salah satu anak disana. Tanpa sadar, hatiku berbunga mendengarnya.
Benarkah aku cocok dengannya? Tapi kan, anak kecil tak mungkin berbohong. Hah, jika memang begitu, aku akan mencoba untuk mendekatinya. Dan ku harap, dia juga menyukaiku.
“hey, kok malah bengong! Ayo mulai risetnya!” ucapnya menyadarkanku tentang lamunanku mengenai dirinya. Akhirnya, kami pun memulai riset kami. Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami duduk di taman belakang panti asuhan tersebut.
“Shan…” panggilku.
“ya?”
“ehm, mau pulang sekarang apa nanti?” tanyaku. Ia pun melirik jam di pergelangan tangan kirinya, lalu berdiri.
“sekarang aja deh. Nanti malem aku ada acara sama keluarga” ucapnya. Aku hanya mengangguk menyetujui. Akhirnya kami pulang.
“makasih ya udah nganterin” ucapnya saat aku mengantarkannya pulang.
“iya sama-sama. Yaudah masuk gih” ucapku. Ia hanya tersenyum lalu melangkah memasuki halaman rumahnya.
“ehm, Shania!” panggilku, membuat langkahnya terhenti.
“ada apa?”
“ehm, besok, mau berangkat bareng gk?” tawarku. Ku lihat ia berfikir, lalu mengangguk.
“boleh deh. Jam setengah 7 udah disini ya!”
Aku hanya mengangguk, lalu pulang. Sesampainya dirumah, aku langsung masuk ke kamarku. Setelah mandi dan berganti baju, aku pun merebahkan diri di kasurku. Sambil menatap langit-langit kamarku, aku membayangkan wajah Shania. Ah, membayangkan wajahnya saja sudah membuatku hampir gila seperti ini. Hvft. Iseng, aku mengirim sms ke dia.
To: Shanju
Malem
langsung istirahat ya, biar besok semangat
Kutunggu 15 menit, tak ada balasan. 20 menit, 25 menit, 30 menit, bahkan hingga 1 jam, tak ada balasan darinya. Hah, mungkin ia tak suka padaku. Hvft. Aku pun meletakan hp ku secara asal di sampingku, lalu memejamkan mataku. Baru saja memejamkan mata, HP ku bergetar. Dengan malas-malasan, aku mengambil HP ku.
From: Shanju
Iya, malem
maaf tadi abis belajar.
ini siapa?
Melihat nama pengirim sms tersebut, sontak rasa kantukku hilang. Aku pun segera merubah posisiku menjadi duduk. Dengan lincah, jari-jari tanganku menari-nari di atas keyword hp ku.
To: Shanju
Ini Agus
hehe
wah rajin ya, padahal baru pulang
Jadilah, malam itu aku ber sms ria dengan Shania. Pukul 9 malam, acara sms an kami berhenti karena ia ingin tidur. Sungguh, Shania selain pintar dan rajin, ia juga disiplin. Jaman sekarang, jarang aku melihat seorang cewek yang tertidur jam 9. Hah sudahlah. Aku pun memandangi foto-foto Shania yang ku ambil dari akun socmed nya. Berbagai ekspresi ada disana. Mulai dari ekspresi senang, sedih, marah, bahkan gesrek pun ada. Aku hanya tersenyum melihat ekspresi-ekspresinya. Setelah puas memandangi foto Shania, aku pun memutuskan untuk tidur.
Esoknya, aku terbangun pukul 5 pagi. Setelah sholat shubuh, aku pun bersiap-siap untuk menjemput Shania ke sekolah. Jujur, selama 11 tahun aku bersekolah, baru kali ini aku sangat bersemangat untuk datang ke sekolah. Shania Junianatha. Nama itu terus terngiang di kepalaku. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku, aku pun segera pergi menuju rumah Shania menggunakan motorku.
Sesampainya disana, ternyata Shania sudah menungguku di teras rumahnya. Ia pun segera menghampiriku.
“hey, maaf lama” ucapku sambil menyerahkan helm yang sengaja ku bawa dari rumah.
“iya, gapapa. Yaudah yuk berangkat”
Kami pun segera berangkat menuju sekolah. Entah hanya perasaanku saja, setelah kejadian kemarin kami berdua menjadi semakin dekat. Hal ini menyebabkanku semakin berniat untuk menyatakan cinta. Tapi, mengingat tugas yang semakin menumpuk, kuurungkan niatku karena tak ingin membagi fokusnya terhadap sekolah. Sebulan setelah kejadian di panti asuhan, hubunganku semakin dekat dengannya. Dimana ada dia, disitu ada aku. Bahkan, teman-teman kami mengira bahwa kami sudah berpacaran. Ckck.
Hari ini, aku berniat untuk menyatakan cinta kepadanya. Setelah menyiapkan semuanya, aku pun menghubungi Shania.
“hallo, Shan, bisa datang ke café pelangi gk?”
“ngapain?”
“dateng aja. Mau ya? Pleaseeee”
“iya iya. Aku otw nih”
“sip. Aku tunggu ya”
Aku pun mengakhiri hubungan via telpon tersebut. Aku pun pergi menuju tempat yang sudah ku rencanakan.
15 menit kemudian, dari tempat ku sekarang, aku melihat wajah Shania yang bingung saat memasuki café. Aku hanya tersenyum melihatnnya.
“Agus, kamu dimana? Gk lucu ah!” ucapnya. Aku pun member kode untuk menyalakan lampu sorot tepat ke arahku dan Shania.
“I will sing a song for a special woman in my heart. Shania Junianatha, this is for you” ucapku. Aku pun mulai memetik senar gitarku.
Look into my eyes – you will see
What you mean to me.
Search your heart, search your soul
And when you find me there you'll search no more.
Don't tell me it's not worth tryin' for.
You can't tell me it's not worth dyin' for.
You know it's true:
Everything I do, I do it for you.
Look into your heart – you will find
There's nothin' there to hide.
Take me as I am, take my life.
I would give it all, I would sacrifice.
Don't tell me it's not worth fightin' for
I can't help it, there's nothin' I want more
You know it's true:
Everything I do, I do it for you, oh, yeah.
There's no love like your love
And no other could give more love.
There's nowhere unless you're there
All the time, all the way, yeah.
Look into your heart, baby...
Oh, you can't tell me it's not worth tryin' for.
I can't help it, there's nothin' I want more.
Yeah, I would fight for you, I'd lie for you,
Walk the wire for you, yeah, I'd die for you.
You know it's true:
Everything I do, oh, I do it for you.
Everything I do, darling.
You will see it's true.
You will see it's true.
Yeah!
Search your heart and your soul
You can't tell it's not worth dying for
I'll be there
I'd walk the fire for you
I'd die for you
Oh, yeah.
I'm going all the time, all the way.
(Bryan Adams – Everything I do, I do it for you)
Selesai menyanyikan lagu tersebut, aku meletakkan gitarku, lalu mengambil sebuket bunga mawar putih dan berjalan menghampiri Shania yang terdiam mematung di tempatnya berdiri.
“Shan, jujur, dari awal kita sekelas, aku udah suka sama kamu. Aku mau ngedeketin kamu, tapi aku takut. Tapi, setelah sebulan ini kita dekat, aku yakin. Aku yakin dengan semua ini. So, Shania Junianatha, would you be a part of my life? Fill the part of my heart?” ucapku. Shania hanya diam sambil memandangku. Pandangannya seolah menyiratkan…. Bahwa ia tak bisa! Ah, jujur hatiku ketar ketir menunggu jawabannya.
“aku…aku gk bisa. Maaf” ucapnya lalu berlari meninggalkanku yang hanya bisa mematung menatap kepergiannya.
*****
(Shania P.O.V)
Aku gk tau harus apa. Jujur, aku seneng saat tau perasaan ku ke Agus gk bertepuk sebelah tangan. Tapi, aku gk bisa. Aku dan Agus gk bisa bersatu. Gk akan pernah bisa. Dari awal kedekatanku dengan Agus, aku udah takut kalau ini semua bakal terjadi. Dan ternyata, ketakutanku menjadi kenyataan. Aku udah gk tau harus kayak gimana ke dia besok. Menjauh? Mungkin itu yang bisa ku lakukan.
Saat ini, aku hanya bisa menangis di kamarku. Menangis karena Agus mencintai ku. Menangis karena semua ini. Menangis karena aku dan Agus tak bisa bersatu. Jarak di antara kami terlalu jauh untuk kami lompati. Aku tak mau terjatuh ke dalam lubang yang ada akibat jarak tersebut. Tidak! Aku tidak akan terjatuh kesana. Aku akan menjauhi Agus. Walau berat. Karena lelah, aku pun memutuskan untuk tidur.
Esoknya, aku terbangun pukul 5. Aku pun segera bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah siap semua, aku pun sarapan.
TIN..TIN
Suara klakson terdengar dari luar rumah ku. Itu pasti Agus! Aku pun berpesan ke bi Inah untuk mengatakan bahwa aku sudah berangkat. Tak berapa lama, bi Inah kembali. Hvft, untunglah Agus pergi. Kalau tidak, aku tidak tau harus beralasan apa. Setelah selesai sarapan, aku berangkat diantar supir.
Sesampainya di sekolah, aku duduk di taman. Rutinitasku setiap pagi sebelum dekat dengan Agus. Ngomong-ngomong soal Agus, bagaimana keadaan dia setelah semalam ya? Hmmm. Sudahlah, aku tak mau memikirkannya. Aku pun mengambil buku ku dari dalam tas. Buku yang berisikan sketsa gambar sosok yang menguasai hatiku. Siapa lagi kalau bukan Agus Nugroho. Hah, mengingat namanya saja sudah membuat dadaku sakit.
Aku pun melihat gambaran-gambaranku. Aku tersenyum kecil melihat tulisan-tulisan kecilku di sudut bawah gambaran tersebut.
“aku tau kamu pasti disini”
Sebuah suara yang amat ku kenal terdengar dari arah belakang. Aku pun segera menoleh, dan mendapati Agus sedang berdiri dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku celana.
“aku tau kamu juga suka sama aku. Tapi kenapa kamu nolak aku semalem?” tanyanya. Aku hanya diam.
“kenapa? Apa ada cowok lain?” tanyanya lagi.
“ada atau gknya cowok lain, kita tetap gk akan bisa bersatu” ucapku dengan suara bergetar lalu berlari meninggalkannya seorang diri.
Tujuanku sekarang adalah toilet. Sesampainya disana, aku menumpahkan air mataku. Sekuat mungkin aku menahan air mataku, namun air mata itu terus saja keluar. 15 menit kemudian, tangisanku mereda. Setelah membasuh wajahku, aku pun melirik jam tanganku. Beruntung, bel masuk belum berbunyi. Aku pun segera beranjak menuju kelas.
Di kelas, sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak melihat kea rah Agus. Aku pun mensiasatinya dengan bercanda dengan teman-temanku.
“oy Shan. Kamu kemaren nolak agus? Bukannya kamu suka sama dia?” Tanya Nabilah.
“aku emang suka sama dia. Tapi kita gk akan bisa sama-sama” ucapku sambil menunduk.
Nabilah hanya mengerutkan keningnya, “kenapa?”
“jarak di antara kami begitu besar Nab. Kamu pasti tau apa itu”
Nabilah hanya bisa diam sambil berfikir. Sesaat kemudian, ia tersentak kaget.
“ya ampun! Kok aku baru nyadar ya?!”
Aku hanya tersenyum tipis, “agama kami berbeda Nab. Aku kristiani, dia Islam. Kami gk mungkin bisa bersatu. Aku tau, dia pemegang teguh agamanya. Begitu juga aku yang memegang teguh agamaku. Aku, ataupun dia, gk mungkin bisa keluar dari jalan kami, dan masuk ke dalam lubang yang semua orang pun gk ingin masuk ke dalamnya!” aku menghentikan ucapanku sejenak, “aku gk mau kalau nantinya aku sama Agus berhubungan, hal ini malah ngebawa kami keluar dari jalur agama kami. Aku lebih memilih berteman dengan dia dan memendam perasaan aku, daripada semua hal itu terjadi”
Nabilah menepuk bahuku pelan, “sabar ya Shan. Aku yakin kok kamu pasti dapet pengganti Agus”
Aku hanya tersenyum, “abis ulangan tengah semester aku pindah”
Nabilah terbelalak, “pindah? Kemana!?”
“amerika. Ngikut orang tua. Dan aku harap, dengan pindahnya aku, aku bisa menghilangkan perasaan aku ke dia. Begitu juga sebaliknya”
Nabilah hanya tersenyum, “lakuin yang menurut kamu bener. Aku akan dukung apa yang kamu lakukan”
Kami saling melempar senyum lalu berpelukan. Setelah itu, kami mengganti topic seputar mid test yang akan di lakukan seminggu kemudian. Seminggu sebelum mid test, Agus mencoba mendekatiku. Namun aku slalu menghindar darinya.
Akhirnya, mid test pun tiba. Aku berusaha memfokuskan diriku ke mid test kali ini. Untungnya berhasil. Seminggu ini, aku tidak memikirkan Agus. Agus pun tak menghubungiku. Namun itu tak masalah. Aku malah beruntung ia tak menghubungiku.
Selesai ulangan hari terakhir, aku menghubungi Agus dan memintanya untuk menemuiku di taman. Aku menunggunya dengan perasaan berdebar, karena ini kali pertama aku berbicara langsung dengannya dalam 2 minggu terakhir.
“hai, Shania” sapa Agus yang berdiri di depanku. Aku hanya terpaku menatapnya. 2 minggu tak bertatap muka secara intens, dia banyak berubah. Jika dulu rambutnya selalu rapih, kali ini ia mengubah gaya rambutnya menjadi terlihat….keren.
“hai”
“ada apa?” tanyanya sambil duduk di sebelahku.
“aku akan pindah” ucapku sambil menunduk. Namun dari ekor mataku, aku melihat raut wajahnya terkejut, “maaf karena aku menolak cintamu. Jujur aku juga suka padamu. Namun, perbedaan di antara kita membuat kita tak bisa bersatu”
“perbedaan? Kenapa dengan perbedaan? Bukankah perbedaan membuat semuanya menjadi indah?”
Aku menggelengkan kepalaku, “perbedaan ini, terlalu besar. Kita berbeda, Agus. Kau orang islam, aku orang Kristen. Kau pasti paham maksudku”
Agus hanya terdiam, aku pun sama.
“maaf, 2 minggu ini menjauhimu. Ini, aku ada sesuatu untukmu. Kau buka saja di rumah ya. Aku mencintaimu” ucapku lalu berlari meninggalkannya. Meninggalkan kenanganku dengannya. Meninggalkan semua kisahku dengannya.
Mungkin, inilah akhir kisah kami. Kisah kami, yang tak mungkin bisa bersatu. Aku cukup sadar dengan perbedaan diantara kami. Perbedaan yang tak mungkin bisa di rubah. Perbedaan yang membuat kami tak bisa bersatu. Mungkin, inilah yang harus aku lakukan. Meninggalkannya, agar hal terburuk tak terjadi. Ku harap, dia dapat melupakanku dan mendapat penggantiku. Yang seiman tentunya. Dan aku harap, kisah kami selalu ia kenang sebagai salah satu memori masa SMA nya.
FIN.
regards, ermalda_EULG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar